Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang khas di berbagai kota di Indonesia. Menjelang azan magrib, halaman masjid mulai dipenuhi warga yang duduk bersila, menunggu waktu berbuka sambil berbincang ringan dengan tetangga atau keluarga.
Di tengah suasana tersebut, berbagai jenis takjil biasanya hadir sebagai pembuka puasa, mulai dari kolak, gorengan, hingga minuman manis. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada satu jenis takjil yang mulai sering muncul di berbagai masjid, yakni es krim.
Tahun ini, fenomena tersebut kembali terlihat melalui program berbagi takjil yang melibatkan ratusan ribu reseller dan pemilik warung es krim di berbagai wilayah Indonesia. Program bertajuk “Maniskan Momen Ramadan” itu menghadirkan pembagian jutaan paket takjil ke masjid-masjid selama bulan puasa.
Program ini melibatkan jaringan distributor serta pemilik warung yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari kota besar hingga kawasan permukiman di daerah. Mereka bekerja sama dengan pengurus masjid dan tokoh masyarakat untuk mendistribusikan takjil kepada para jemaah yang berbuka puasa bersama.
Tradisi Berbagi Takjil yang Terus Berkembang
Tradisi berbagi makanan berbuka sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Di banyak daerah, warga secara bergiliran menyediakan takjil untuk jemaah masjid atau masyarakat sekitar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola berbagi ini juga mulai melibatkan komunitas bisnis kecil hingga jaringan reseller produk makanan dan minuman.
Melalui pendekatan berbasis komunitas tersebut, distribusi takjil dapat menjangkau lebih banyak lokasi dalam waktu yang relatif singkat. Dalam setiap kegiatan berbagi, sekitar 100 hingga 500 jemaah masjid biasanya menerima paket takjil.
Sylvana Zhong, Senior Brand Manager Aice Group, mengatakan Ramadan merupakan momentum penting untuk mempererat hubungan sosial di masyarakat. Menurutnya, waktu berbuka puasa sering menjadi momen kebersamaan yang sederhana namun berkesan bagi banyak keluarga.
“Kami melihat momen berbuka puasa sebagai waktu yang penuh kebersamaan. Melalui program ini kami ingin menghadirkan sentuhan sederhana yang bisa menambah keceriaan saat berbuka, sekaligus mempererat silaturahmi di lingkungan sekitar,” ujar Sylvana.
Es Krim Mulai Jadi Takjil Favorit
Jika dulu es krim jarang terlihat sebagai menu berbuka, kini situasinya mulai berubah. Banyak jemaah, terutama anak-anak, menganggap es krim sebagai penutup berbuka yang menyegarkan setelah seharian berpuasa. Sensasi dingin dan rasa manis membuatnya cukup populer sebagai alternatif takjil.
Dalam kegiatan berbagi takjil kali ini, beberapa varian es krim yang dibagikan antara lain produk berbasis mochi dengan berbagai rasa seperti vanilla, cokelat, durian, klepon, peach, hingga mangga. Selain itu, terdapat pula es krim berbentuk bola renyah dengan rasa cokelat malt dan cookies & cream. Menu-menu tersebut dibagikan langsung kepada jemaah di halaman masjid menjelang waktu berbuka.
Kolaborasi Komunitas Hingga Kreator Digital
Selain distribusi langsung di lapangan, kegiatan Ramadan ini juga melibatkan sejumlah kreator konten yang ikut meramaikan kegiatan berbagi di beberapa kota. Di Bandung misalnya, kegiatan berbagi takjil turut dihadiri kreator konten eJ Peace. Sementara di Medan, masyarakat dapat bertemu dengan Arif Muhammad yang dikenal melalui karakter “Mamak Bety”. Kegiatan serupa juga dijadwalkan berlangsung di Jakarta.
Selain aktivitas offline, program ini juga diperluas melalui platform digital seperti TikTok melalui sesi live streaming yang menghadirkan kreator konten dan interaksi langsung dengan audiens. Pendekatan kombinasi antara kegiatan lapangan dan digital dinilai dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
Ramadan, Momen Kebersamaan yang Selalu Dinanti
Bagi banyak orang, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga waktu untuk memperkuat hubungan sosial. Di banyak masjid, momen menunggu azan magrib sering berubah menjadi ruang interaksi warga. Anak-anak bermain di halaman masjid, orang tua berbincang santai, sementara sebagian lainnya menyiapkan makanan untuk berbuka bersama.
Dalam suasana seperti itu, kehadiran takjil sering menjadi simbol kecil dari kebersamaan. Program berbagi makanan selama Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang makanan yang dibagikan, tetapi juga tentang kebiasaan berbagi yang terus hidup di tengah masyarakat. (Ian. AF)







