Ada satu momen yang hampir selalu terjadi saat perjalanan jauh, terutama saat musim mudik Lebaran. Setelah beberapa jam di mobil, tiba-tiba ada yang berkata dari kursi belakang: “Sebentar… kita berhenti dulu, ya. Badan rasanya kaku semua.”
Kalimat itu biasanya disambut oleh orang lain dengan ekspresi setuju. Bahu terasa pegal, kaki kesemutan, dan pinggang mulai protes. Perjalanan jauh memang menyenangkan karena membawa kita menuju kampung halaman. Namun, tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk duduk diam selama berjam-jam di dalam kendaraan.
Karena itu, selain mempersiapkan kendaraan dan rute perjalanan, ada satu hal yang sering terlupakan, yakni mempersiapkan tubuh sebelum perjalanan panjang.
Duduk Terlalu Lama Bisa Berdampak pada Tubuh
Perjalanan jarak jauh, terutama dengan mobil atau bus, sering membuat seseorang duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Dalam kondisi seperti ini, tubuh bisa mengalami beberapa gangguan sederhana, seperti pegal dan kaku.
Dalam kasus tertentu, duduk terlalu lama juga dapat berdampak lebih serius. Menurut penjelasan dari para ahli kesehatan, duduk dalam waktu lama dapat memperlambat aliran darah di kaki. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT) atau pembekuan darah di pembuluh vena dalam.
Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization, pernah menyebut bahwa perjalanan lebih dari empat jam, baik dengan mobil, bus, kereta, maupun pesawat, dapat meningkatkan risiko pembekuan darah pada sebagian orang, terutama jika tidak banyak bergerak. Risikonya memang tidak besar bagi orang sehat, tetapi tetap menjadi pengingat bahwa tubuh perlu tetap aktif meskipun sedang bepergian.
Fenomena “Traveller’s Thrombosis”
Dalam dunia medis bahkan ada istilah khusus untuk kondisi ini, yaitu traveller’s thrombosis. Istilah tersebut muncul karena kasus pembekuan darah sering terjadi pada orang yang melakukan perjalanan panjang tanpa banyak bergerak.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Ari Fahrial Syam, pernah menjelaskan bahwa duduk terlalu lama dapat menyebabkan aliran darah menjadi lambat sehingga meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah.
“Ketika seseorang duduk dalam waktu lama tanpa banyak bergerak, sirkulasi darah terutama di bagian kaki bisa melambat,” jelasnya dalam sebuah wawancara mengenai kesehatan saat perjalanan jauh.
Karena itu, perjalanan panjang sebaiknya selalu diselingi dengan aktivitas ringan.
Kenapa Tubuh Cepat Pegal Saat Perjalanan Jauh?
Selain masalah sirkulasi darah, ada alasan lain mengapa tubuh cepat terasa tidak nyaman saat perjalanan panjang. Tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk bergerak secara dinamis.
Ketika kita duduk terlalu lama dalam posisi yang sama, otot-otot tertentu akan bekerja terus menerus untuk menopang tubuh. Akibatnya, bagian seperti leher, bahu, dan pinggang lebih cepat mengalami kelelahan.
Mayo Clinic, sebuah pusat kesehatan akademis nirlaba asal Amerika yang fokus menyediakan pelayanan, pendidikan dan riset kesehatan, pernah merilis kalau duduk dalam posisi yang sama dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang bagian bawah serta menyebabkan ketegangan pada otot leher dan punggung.
Maka tak heran bila setelah beberapa jam perjalanan, tubuh akan terasa kaku seperti baru selesai mengikuti sesi yoga yang gagal.
Istirahat Bukan Sekadar Isi Bensin
Saat perjalanan jauh lalu kita berhenti di rest area, biasanya ada dua hal yang dilakukan: mengisi bahan bakar dan membeli kopi. Padahal tubuh juga membutuhkan isi ulang energi.
Banyak pakar kesehatan menyarankan untuk beristirahat setiap dua hingga tiga jam selama perjalanan jauh. Waktu istirahat ini bisa digunakan untuk berjalan kaki sebentar, melakukan peregangan ringan, atau sekadar berdiri dan menggerakkan kaki.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menganjurkan bagi yang melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan untuk tidak memaksakan diri duduk terlalu lama tanpa istirahat. Karena kelelahan fisik dapat memengaruhi konsentrasi dan kesehatan selama perjalanan.
Dengan kata lain, berhenti sejenak bukan berarti perjalanan menjadi lebih lama. Justru itu membantu perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman.
Hidrasi dan Makanan Ringan Juga Penting
Satu kesalahan kecil yang sering terjadi saat perjalanan jauh adalah mengurangi minum air karena takut terlalu sering berhenti ke toilet. Padahal tubuh tetap membutuhkan cairan yang cukup. Kekurangan cairan dapat menyebabkan tubuh lebih cepat lelah, konsentrasi menurun, serta meningkatkan risiko sakit kepala selama perjalanan.
Para ahli kesehatan menyarankan untuk tetap minum air secara teratur selama perjalanan jauh. Selain itu, makanan ringan seperti buah atau camilan sehat juga dapat membantu menjaga energi tubuh.
Meski begitu, ada satu hal yang perlu diingat: camilan boleh saja, tetapi tidak perlu satu toples penuh kue Lebaran berada di pangkuan juga, kan.
Tubuh Juga Perlu “Pemanasan” Sebelum Perjalanan
Sebelum memulai perjalanan jauh, ada baiknya tubuh juga dipersiapkan terlebih dahulu. Aktivitas ringan seperti peregangan otot atau berjalan sebentar sebelum berangkat dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan membuat tubuh lebih siap menghadapi perjalanan panjang.
Banyak orang biasanya sibuk memeriksa tekanan ban, bahan bakar, dan kondisi mesin mobil sebelum mudik. Padahal, tubuh pengemudi dan penumpang juga perlu dicek kondisinya. Karena tubuh yang sehat jauh lebih menentukan kenyamanan perjalanan.
Perjalanan Panjang Tetap Bisa Menyenangkan
Pada akhirnya, perjalanan jauh adalah bagian dari pengalaman yang menyenangkan. Ada cerita di dalam mobil, lagu-lagu yang diputar berulang kali, dan obrolan keluarga yang kadang tidak terjadi di hari biasa.
Dengan sedikit persiapan tubuh, perjalanan panjang tidak harus selalu identik dengan pegal dan kelelahan. Kadang cukup dengan hal-hal sederhana, seperti minum air yang cukup, berhenti sejenak untuk berjalan, dan memberi tubuh kesempatan untuk bergerak.
Karena perjalanan menuju kampung halaman seharusnya membawa rasa Bahagia, bukan sekadar sakit pinggang. (Ian. AF)







