• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Wednesday, March 25, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Legislator Desak Pemerintah Perhatikan Industri Tekstil Nusantara

Editor by Editor
December 12, 2019
in Ekonomi, Makro
0 0
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Makronesia.id — Anggota Komisi VI DPR, Nevi Zuairina meminta Pemerintah lebih memperhatikan Industri tekstil nasional yang mulai goncang, akibat berbagai faktor luar dan internal. Faktor luar dipengaruhi oleh gempuran produk impor yang mengganggu pasar dalam negeri, sedangkan faktor dari dalam akibat kemampuan daya saing produk dan kemampuan menembus pasar internasional masih kecil.

“Industri tekstil negeri ini sedang kritis. Banyak pabrik tutup atau hengkang dari negara kita. Di sentra-sentra perdagangan tekstil seperti Tanah Abang sulit menemukan merk lokal. Sedangkan gempuran produk tekstil impor semakin menjadi dengan kebijakan proteksi minim sehingga kebebasan impor tekstil tanpa barier”, ujar Nevi.

RelatedPosts

Lonjakan Transaksi Digital 130% Jelang Lebaran Uji Ketahanan Operasional dan Pendapatan Perusahaan

Bukan Kolak atau Gorengan, Takjil Ini Mendadak Ramai Dibagikan di Masjid Saat Ramadan

Ramadan 2026: Ajaib Group Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Panti, Tegaskan Komitmen Sosial Perusahaan

Legislator PKS ini mengatakan, bagi negara-negara dunia, potensi pasar di negara kita sangat menggiurkan. ketika Negara kita tidak mampu mengantisipasi serangan produk luar akibat pasar bebas, maka yang terjadi adalah defisit neraca dagang. Tercatat Indonesia mengalami defisit sebesar USD160 juta pada tahun 2019.  Begitu juga terjadi pada kinerja industri Tekstil dan produk tekstil sepanjang tahun 2018 mengalami defisit neraca perdagangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 tercatat ekspor TPT tumbuh sebesar 0,9%, sedangkan impor melesat jauh sebesar 13,9%. Dengan begitu pertumbuhan nilai neraca perdagangan TPT melambat 25,6% atau terendah sejak 2008. Bila kita terus terlena, maka negara kita akan semakin menderita kemerosotan ekonomi.

Nevi menambahkan, bahwa pemerintah perlu mendengar pesan dari para pelaku industri tekstil yang mengeluhkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 64 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil. Penerbitan peraturan ini mengakibatkan memperbolehkan pedagang pemegang Angka Pengenal Impor Umum (API-U) melakukan importasi kain, benang, dan serat. Kebijakan ini ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap pelemahan pertumbuhan industri tekstil yang terus menurun sejak 10 tahun terakhir. Peningkatan daya saing industri tekstil, termasuk garmen dari hulu ke hilir sangat mendesak untuk dilakukan.

Sebelumnya, berbagai laporan yang merekap situasi industri tekstil menyebutkan bahwa serbuan impor membuat masyarakat lebih banyak menggunakan barang impor. Berdasarkan data BPS, sepanjang kuartal I tahun 2019 produksi industri tekstil dan pakaian mengalami lonjakan yang signifikan yaitu tumbuh 18,98%, sedangkan pada kuartal I tahun 2018 hanya tumbuh sebesar 7,46%. Pencapaian ini bahkan melebihi pencapaian sepanjang 2018, dimana hanya tumbuh sebesar 8,73%.  Politisi PKS ini setuju dengan usulan pada BKPM bersama pemerintah untuk mendorong perbankan melakukan penetrasi terhadap UMKM yang mendukung industri tekstil. Kemudian dari pemerintah sendiri perlu adanya harmonisasi regulasi untuk turut mendukung berkembangnya tekstil Tanah Air.

Legislator Sumatera Barat ini mengatakan, di balik lonjakan signifikan pertumbuhan produksi tekstil yang beredar di negara kita,  pertumbuhan konsumsi tekstil sepanjang semester I 2019 terus meningkat namun peningkatan ini tidak dinikmati pelaku industri lokal. Situasi tersebut menjadi jawaban melemahnya industri tekstil lokal akibat gempuran produk impor. Contoh yang dikeluhkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yakni sulitnya untuk menemukan produk tekstil dalam negeri di Pasar Tanah Abang sebagai pusat perbelanjaan tekstil di Ibu Kota. Ini membuktikan bahwa ada sesuatu yang agak mengkahwatirkan dan perlu segera ada perbaikan. Perbaikan ini adalah berupa  revitalisasi mesin sebesar Rp175 triliun yang mencakup sektor hulu dan hilir seperti peremajaan mesin, peningkatan kapasitas produksi hingga memacu ekspor.

“Semoga ada solusi cepat dari pemerintah untuk memberikan solusi polemik guncangnya industri tekstil nasional. Solusi jangka pendek saat ini adalah proteksi barang impor.  Jangan terlalu di umbar impor tekstil masuk ke Indonesia. Jangka panjangnya, Industri tekstil perlu upaya peningkatan daya saing dan skala kapasitas produksi yang membesar”, pungkas Nevi Zuairina.

Tags: Nevi ZuairinaTekstil
ShareTweetPin

Related Posts

Lonjakan Transaksi Digital 130% Jelang Lebaran Uji Ketahanan Operasional dan Pendapatan Perusahaan

Lonjakan Transaksi Digital 130% Jelang Lebaran Uji Ketahanan Operasional dan Pendapatan Perusahaan

March 23, 2026
Bukan Kolak atau Gorengan, Takjil Ini Mendadak Ramai Dibagikan di Masjid Saat Ramadan

Bukan Kolak atau Gorengan, Takjil Ini Mendadak Ramai Dibagikan di Masjid Saat Ramadan

March 16, 2026
Ramadan 2026: Ajaib Group Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Panti, Tegaskan Komitmen Sosial Perusahaan

Ramadan 2026: Ajaib Group Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Panti, Tegaskan Komitmen Sosial Perusahaan

March 12, 2026
Hari Perempuan Internasional 2026: Hitachi Vantara Soroti Pentingnya Membuka Jalan Kepemimpinan bagi Perempuan di Industri Teknologi

Hari Perempuan Internasional 2026: Hitachi Vantara Soroti Pentingnya Membuka Jalan Kepemimpinan bagi Perempuan di Industri Teknologi

March 16, 2026
Maybank Syariah Salam Festival 2026: Maybank Indonesia Salurkan Bantuan Rp1,98 Miliar dari Ramadan hingga Idul Adha

Maybank Syariah Salam Festival 2026: Maybank Indonesia Salurkan Bantuan Rp1,98 Miliar dari Ramadan hingga Idul Adha

March 12, 2026
Lampung Punya Destinasi Belanja Baru, FooFoo Targetkan Penjualan Rp500 Juta per Bulan

Lampung Punya Destinasi Belanja Baru, FooFoo Targetkan Penjualan Rp500 Juta per Bulan

March 11, 2026

POPULAR

  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Tanpa Drama: 7 Tips Agar Mobil Nggak Ngambek Saat Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Digital
  • Budaya
  • Hiburan
  • Ragam

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In