Jakarta, Makronesia.id 26/2/2026 – Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang berdekatan dengan Ramadan mendorong tren baru di masyarakat: memilah sampah sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu sustainability dan mindful living, kebiasaan ini dinilai semakin relevan selama bulan suci.
Ramadan identik dengan peningkatan aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak hingga konsumsi produk kemasan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volume sampah, baik organik maupun anorganik. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah rumah tangga berisiko menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan berdampak pada lingkungan.
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Pola Konsumsi
Tren gaya hidup berkelanjutan terus berkembang pada 2026, terutama di kalangan generasi muda. Ramadan dipandang sebagai waktu yang tepat untuk tidak hanya menahan diri secara spiritual, tetapi juga memperbaiki pola konsumsi dan kebiasaan rumah tangga.
Semen Merah Putih mengajak masyarakat menjadikan kebiasaan memilah sampah sebagai langkah kecil yang konsisten dimulai dari rumah.
“Peduli bukan hanya tentang program, tetapi tentang kebiasaan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih.
Cara Memilah Sampah yang Tepat Selama Ramadan
Agar mudah diterapkan, berikut langkah yang bisa dilakukan masyarakat:
1. Gunakan Sistem Tiga Kategori
-
Organik: sisa makanan, sayur, buah (bisa dijadikan kompos)
-
Anorganik: plastik, kertas, kaca, logam, minyak jelantah, pakaian bekas
-
Residu: popok sekali pakai, sachet multilayer, styrofoam kotor
2. Tetapkan Jadwal Rutin
Menentukan satu hari khusus setiap minggu untuk memilah sampah membantu membangun kebiasaan tanpa terasa membebani.
3. Manfaatkan Sampah Organik
Sisa bahan makanan dapat diolah menjadi kompos atau pupuk cair rumahan, sekaligus menjadi sarana edukasi keluarga.
4. Terapkan Prinsip “Before You Throw”
Biasakan mempertimbangkan apakah barang bisa digunakan kembali, diperbaiki, atau didonasikan sebelum dibuang.
5. Setor ke Bank Sampah
Menyetor sampah terpilah ke bank sampah membantu mengurangi beban TPA dan memberi nilai tambah ekonomi.
Beberapa komunitas yang aktif mendorong gerakan ini antara lain:
-
Bank Sampah Induk Rumah Harum
-
Pilah Sampah
-
Kabelotapura
Dukungan Industri dan Konsep Ekonomi Sirkular
Selain komunitas, sektor industri juga mulai memperkuat inisiatif pengelolaan sampah. Salah satunya melalui program SIRKULA-C dari PT Cemindo Gemilang Tbk.
Dalam program ini:
-
Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pengomposan
-
Sampah anorganik berkalori tinggi diolah menjadi RDF (refuse-derived fuel)
Pendekatan ekonomi sirkular ini bertujuan mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat sekitar wilayah operasional.

Dari Kebiasaan Jadi Budaya
Pilah sampah kini tidak lagi sekadar kegiatan bersih-bersih. Ia menjadi bagian dari identitas gaya hidup peduli lingkungan. Ramadan 2026 menghadirkan peluang untuk menjadikan kebiasaan ini sebagai budaya yang berkelanjutan.
Ketika satu keluarga mulai memilah sampah, satu lingkungan dapat bergerak bersama. (Alia Mudira)







