Ada titik di mana rindu berhenti menjadi harapan
dan berubah menjadi pengetahuan yang pahit.
Aku merindukannya,
namun rinduku tidak lagi mencari jawaban,
karena aku sudah melihat seluruh kalimatnya.
Ia menyesal, ya.
Aku bisa merasakannya seperti gema yang terlambat.
Tetapi penyesalan bukan jalan pulang.
Ia hanya lampu yang menyala di rumah yang sudah dikunci dari dalam.
Yang runtuh bukan sekadar hubungan,
melainkan keterikatan fisik dan emosi
yang berkali-kali kuperbaiki dengan niat baik,
dan berkali-kali ia hancurkan tanpa benar-benar menoleh ke belakang.
Di situlah sesuatu di dalam diriku akhirnya berhenti.
Bukan karena aku kehabisan cinta,
melainkan karena cintaku tidak lagi menemukan pijakan.
Tak ada tanah yang bisa ditanami
jika setiap musim seseorang sengaja mencabut akarnya.
Aku tidak marah.
Aku tidak membenci.
Aku hanya sampai pada kelelahan yang jernih.
Kelelahan yang tahu kapan harus berhenti berharap,
meski hati belum sepenuhnya rela.







