Kita adalah kecelakaan ekspektasi yang kita rawat sendiri,
membangun istana di atas tanah yang tak pernah kita miliki.
Logikaku mengetuk pintu, membawa tagihan atas realita yang pilu;
bahwa rumahku terlalu sempit untuk menampung dua nasib yang lesu.
Kita bertukar peluh dalam tegang yang paling tenang,
mencari lega pada tubuh yang esok akan saling asing dan hilang.
Tak ada mimpi yang kita rakit, karena kita paham benar arti takut;
bahwa di depan sana, takdir sudah menyiapkan maut bagi kita yang terpaut.
Tak ada ruang bagimu, tak ada jaminan bahagia untukku,
namun mengapa kehilanganmu tetap terasa sesunyi itu?
Mungkin karena aku tak hanya kehilangan dirimu,
tapi kehilangan bayangan diriku yang (pernah) kau cintai dulu.







