Selain maaf-maafan, Lebaran juga identik dengan macet panjang. Setiap tahun, jutaan orang bergerak serentak keluar kota. Di Indonesia, musim mudik selalu jadi ‘stres test nasional’ untuk kendaraan pribadi.
Data Korlantas Polri beberapa tahun terakhir menunjukkan jutaan kendaraan keluar dari Jabodetabek dalam periode H-7 hingga H+3 Lebaran. Artinya, mobil Anda bukan cuma dipakai, tapi turut dipaksa lembur.
Menariknya, fenomena lonjakan kendaraan saat hari raya bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat saat Thanksgiving, AAA (American Automobile Association) pernah mencatat kalau lebih dari 55 juta orang bepergian jarak jauh dalam satu periode libur panjang. Dampaknya? Lonjakan mogok di jalan tol dan antrean derek meningkat signifikan.
Jadi, supaya mobil tidak tiba-tiba minta THR tambahan di bahu jalan, ini dia tips yang bisa Anda lakukan.
- Jangan Cuma Ganti Oli, Cek Sistem Pendingin
Kasus overheat adalah salah satu penyebab mobil mogok paling klasik saat perjalanan jauh. Di Inggris, lembaga otomotif RAC pernah melaporkan bahwa kerusakan sistem pendingin (radiator bocor, kipas mati, coolant kurang) menjadi salah satu penyebab utama breakdown saat musim panas.
Lalu, bagaimana mudik Lebaran di Indonesia? Macet, cuaca panas, serta AC nyala terus adalah kombinasi sempurna bikin suhu mesin naik. Oleh sebab itu, checklist cepat:
- Pastikan coolant cukup (bukan air keran ya, mohon).
- Cek selang radiator.
- Pastikan kipas radiator menyala normal.
Kalau jarum suhu naik perlahan saat macet, itu bukan drama Korea. Itu sinyal.
- Ban Bukan Cuma Soal Kembang
Ban sering jadi korban yang diabaikan. Padahal si karet bundar hitam itu yang kerja paling keras. Di Jepang, saat Golden Week (libur panjang nasional), JAF (Japan Automobile Federation) mencatat peningkatan insiden ban pecah akibat tekanan angin tidak sesuai dan beban berlebih.
Mudik sama saja mobil diisi koper, oleh-oleh, kadang rice cooker, bahkan sepeda anak. Tipsnya:
- Cek tekanan angin sesuai rekomendasi pabrikan (lihat di pintu pengemudi).
- Jangan lupa ban serep (ini sering dilupakan).
- Perhatikan usia ban. Lebih dari 4–5 tahun? Waspada walau kembang masih tebal.
Ban itu seperti sepatu. Kelihatannya oke, tapi kalau solnya sudah keras, tetap berisiko.
- Rem Harus Prima, Apalagi Jalur Turunan
Kalau rute Anda lewat jalur selatan Jawa atau pegunungan, sistem pengereman wajib sehat. Di Amerika Serikat, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) pernah merilis bahwa brake-related failure masih jadi salah satu faktor kecelakaan kendaraan berat di jalur turunan panjang.
Mudik itu bukan cuma tol lurus. Ada tanjakan, turunan, dan kadang sopir depan yang tiba-tiba rem mendadak karena lihat warung sate. Jadi, yang perlu dicek:
- Ketebalan kampas rem.
- Kondisi minyak rem.
- Getaran saat mengerem (indikasi disc brake tidak rata).
Kalau rem terasa kosong atau terlalu dalam, jangan nekat bilang, “Ah, nanti juga sampai.”
- Aki Lemah Sama Saja Drama di Rest Area
Aki sering terasa baik-baik saja… sampai tiba-tiba tidak ada setrum sama sekali. Di musim dingin Eropa, kasus mobil tidak bisa starter meningkat drastis karena aki drop. Walau Indonesia tidak bersalju, macet panjang dan penggunaan AC terus-menerus tetap membebani sistem kelistrikan. Maka, ciri aki mulai lemah:
- Starter berat.
- Lampu redup.
- Head unit tiba-tiba restart sendiri.
Kalau usia aki sudah lebih dari 2 tahun, ada baiknya dites sebelum berangkat. Percayalah, dorong mobil di rest area sambil memakai sandal jepit itu bukan pengalaman spiritual yang menyenangkan.
- Jangan Overload. Mobil Bukan Truk Ekspedisi
Setiap mobil punya Gross Vehicle Weight Rating (GVWR), alias batas maksimal beban. Di Australia, kepolisian pernah mengingatkan lonjakan kecelakaan saat libur panjang karena kendaraan kelebihan muatan, mempengaruhi stabilitas dan jarak pengereman.
Mudik sering jadi momen sekalian angkut semua. Namun ingat:
- Beban berlebih bikin suspensi bekerja ekstra.
- Konsumsi BBM lebih boros.
- Risiko ban pecah meningkat.
Kalau bagasi sudah seperti gudang mini market, mungkin saatnya evaluasi.
- Siapkan Emergency Kit. Bukan Paranoid, Ini Realistis
Di Jerman, ADAC (klub otomotif terbesar di Eropa) bahkan merekomendasikan emergency kit standar untuk perjalanan jauh. Minimal Anda bawa:
- Dongkrak & kunci roda.
- Senter.
- Air minum.
- Power bank.
- Segitiga pengaman.
Kalau mau lebih serius:
- Kabel jumper.
- Pompa ban portable.
- Toolkit sederhana.
Karena Google Maps tidak bisa memperbaiki ban bocor.
- Istirahat Itu Strategi, Bukan Kelemahan
Menurut berbagai studi keselamatan jalan di Eropa, kelelahan pengemudi menyumbang persentase signifikan kecelakaan jarak jauh. Mudik bukan balapan. Targetnya bukan siapa paling cepat sampai, tapi siapa paling selamat sampai. Maka idealnya:
- Istirahat tiap 2–3 jam.
- Jangan paksakan nyetir kalau mengantuk.
- Gantian dengan pasangan kalau memungkinkan.
Mobil mungkin kuat, tapi badan belum tentu.
Servis Boleh, Tapi Mindset Juga Harus Siap
Menjelang Lebaran, bengkel penuh adalah hal wajar. Tapi persiapan bukan cuma soal teknis, juga soal kebiasaan.
Mobil sehat, sopir waras, beban realistis adalah anugerah mudik tanpa drama. Karena yang kita cari saat Lebaran bukan konten viral di pinggir tol, tapi momen hangat kumpul keluarga. Dan kalau pun macet panjang tak terhindarkan, setidaknya Anda bisa tersenyum sambil bilang, “Tenang… mobil saya sudah siap tempur.” (Ian. AF)







