Nama Kurt Cobain kembali jadi trending topic di media luar negeri setelah muncul laporan forensik independen yang mempertanyakan kembali penyebab kematiannya pada 1994. Meski otoritas resmi tidak membuka kembali kasus tersebut, jagat internet keburu ramai. Seperti biasa, responsnya pun tak hanya satu warna.
Internet Bereaksi: Dari Thread Serius sampai Netflix Core
Di X (Twitter), beberapa thread panjang bermunculan. Isinya membedah ulang detail kasus, membandingkan laporan lama dan klaim baru, hingga menyertakan potongan arsip berita era 90-an.
Sebagian warganet menulis dengan nada investigative. Netizen ramai mengulas kembali kadar toksikologi yang dulu diperdebatkan. Tak hanya itu, mereka juga mengaitkan dengan teori yang sudah lama beredar sejak awal 2000-an. Yang pasti, mereka mengkritisi mengapa laporan independen baru muncul setelah puluhan tahun.
Namun di sisi lain, ada juga respons yang jauh lebih santai. Di TikTok, sejumlah kreator membuat video dengan format “POV: You just found out Kurt Cobain’s case is trending again”.
Ada yang menyebut situasi ini bagai “very Netflix documentary coded”, merujuk pada tren serial true crime yang memang populer di kalangan Gen-Z. Formatnya cepat, potongan klip lama, backsound grunge, lalu teks overlay: History repeating itself… again.
Bukan sinis, tapi hal ini lebih ke gaya khas internet. Semua hal besar bisa masuk ke format konten 60 detik.
Meme Culture: Dari Serius ke Absurd dalam 3 Scroll
Beberapa meme yang beredar memperlihatkan kontras generasi. Seperti, format dua gambar: generasi lama dengan caption “This changed my life”, dan generasi sekarang dengan caption “Added to playlist”.
Lalu, meme template “We’ve been through this before” yang menyiratkan bahwa debat ini sudah terjadi berkali-kali. Ada juga yang menulis komentar bernada reflektif tapi ringan, seperti “Regardless of the theory, the music still hits.”
Memang sudah takdir, setiap kali nama Cobain trending, maka angka streaming lagu-lagu Nirvana cenderung ikut terdongkrak. Fenomena ini bukan hal baru di industri musik digital. Ketika trending topic, maka akan berbanding lurus dengan lonjakan streaming.
Internet boleh ribut, tapi algoritma Spotify tetap jalan.
Generasi Lama: Lebih Protektif terhadap Narasi
Di forum yang lebih serius seperti subreddit bertema Gen X, atau komunitas musik alternatif lama, diskusinya berjalan beda. Nada komentarnya cenderung lebih emosional, sangat hati-hati, serta fokus pada isu kesehatan mental.
Beberapa netizen mengingatkan bahwa membingkai ulang tragedi sebagai misteri kriminal bisa mengaburkan fakta bahwa Cobain memang pernah secara terbuka berbicara tentang depresi dan kecanduan.
Bagi generasi ini, Cobain bukan sekadar topik viral. Cobain bagian dari konteks sosial dan musik 90-an, ketika grunge menjadi simbol perlawanan terhadap industri yang terlalu glamor.
Gen-Z: Observasional, Bukan Ideologis
Menariknya, banyak Gen-Z tidak masuk terlalu dalam ke debat teknis. Alih-alih memperdebatkan bukti forensik, mereka lebih tertarik membahas soal tekanan fame di era sebelum media sosial, bagaimana rasanya jadi ikon global tanpa filter Instagram, hingga pertanyaan polos apakah Cobain akan survive di era TikTok yang hiper-eksposur.
Beberapa video bahkan membahas skenario kalau Kurt Cobain hidup di 2026, apakah dia akan punya akun TikTok? Atau justru menghilang dari internet?
Diskusi generasi ini bergeser dari apa yang terjadi menjadi bagaimana kita memahami ketenaran hari ini.
Legacy yang Tetap Hidup
Terlepas dari semua debat, satu hal yang tidak bisa disangkal adalah bahwa legacy musik Cobain dan Nirvana tetap bertahan di generasi baru. Lagu-lagu mereka masih diputar, didengar, di-cover, dipakai buat soundtrack TikTok, dan muncul di playlist nostalgia maupun discovery.
Mau kenyataan soal kematiannya apa pun, nama Kurt Cobain tetap jadi bagian besar dari sejarah musik rock, dan selalu punya tempat dalam diskusi budaya pop modern. (Ian. AF)







