Makronesia.id, Jakarta – Pasar kripto kembali belajar satu hal lama: di tengah dentuman konflik global, aset digital tetap tak kebal sentimen.
Awal pekan ini, tekanan datang bertubi-tubi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa serangan udara terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan militer tercapai. Pernyataan itu segera memicu gelombang risk-off di pasar global—sebuah refleks klasik investor ketika ketidakpastian meningkat.
Harga Bitcoin (BTC) pun terseret. Pada Senin (2/3), BTC turun ke kisaran US$65.954 setelah sempat rebound menembus US$68.000. Dalam 24 jam terakhir, nilainya terkoreksi sekitar 1 persen, dan jika ditarik sebulan ke belakang, penurunannya telah menyentuh 20 persen.
Tekanan tidak berhenti di situ. Ethereum (ETH) melemah sekitar 2,46 persen ke level US$1.947. XRP turun hampir 3 persen ke kisaran US$1,35, sementara Solana (SOL) turut terkoreksi di tengah meningkatnya kecemasan global.
Dari Timur Tengah ke Layar Perdagangan
Pelemahan ini berkelindan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan meningkat ketika Iran membantah adanya pembukaan kembali negosiasi nuklir dengan Washington. Di saat yang sama, Inggris menyatakan kesiapan mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk mendukung serangan defensif terhadap situs rudal Iran.
Ketika risiko geopolitik melonjak, pasar bereaksi cepat. Harga minyak mentah mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Emas—aset safe haven klasik—melonjak lebih dari 2 persen dalam 24 jam. Indeks saham Asia seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong dibuka melemah.
Kripto, yang kerap disebut sebagai “emas digital”, justru kembali diperlakukan sebagai aset berisiko.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai volatilitas ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen makro global.
“Dalam jangka pendek, Bitcoin kembali bergerak sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Ketika terjadi eskalasi konflik dan lonjakan harga minyak, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas,” ujar Calvin.
Ujian Level Psikologis
Secara teknikal, Bitcoin kini bergerak di bawah area penopang penting US$65.000. Jika tekanan berlanjut dan harga menembus US$64.000, pasar berisiko menguji ulang level US$63.000, bahkan mendekati US$60.000—angka yang menjadi batas psikologis penting bagi pelaku pasar.
Sebaliknya, untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka pendek, BTC perlu menembus kembali area US$68.500–US$69.000 dan melampaui US$70.800.
Data on-chain dan derivatif turut menunjukkan sinyal kehati-hatian. Aktivitas akumulasi investor besar (whale) dilaporkan menurun, sementara likuidasi posisi berleverage mempercepat tekanan harga. Struktur pasar untuk sementara masih cenderung bearish, dengan dorongan beli besar belum terlihat cukup kuat menopang reli berkelanjutan.
Dua Skenario, Satu Ketidakpastian
Meski demikian, dinamika makro membuka dua kemungkinan berbeda dalam jangka menengah.
Jika eskalasi konflik mendorong bank sentral—khususnya Federal Reserve—untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya, tambahan likuiditas global berpotensi menjadi katalis positif bagi kripto. Namun, jika lonjakan harga energi memicu gelombang inflasi baru dan menunda penurunan suku bunga, tekanan terhadap aset berisiko bisa bertahan lebih lama.
Di luar faktor geopolitik, industri kripto juga menanti kepastian regulasi di Amerika Serikat. Pembahasan RUU CLARITY Act yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2026 dinilai dapat menjadi landasan hukum penting bagi aset digital, membuka pintu lebih lebar bagi aliran dana institusional.
Investor Indonesia Menahan Napas
Di dalam negeri, suasana tak jauh berbeda. Pergerakan harga yang cenderung sideways dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak investor memilih bersikap wait and see. Ketidakpastian global—dari konflik geopolitik hingga arah suku bunga AS—mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menambah eksposur.
Meski demikian, minat terhadap aset kripto belum surut. Di platform Tokocrypto, investor disebut cenderung melakukan akumulasi bertahap dan lebih selektif memilih aset, alih-alih melakukan transaksi agresif seperti pada periode bullish sebelumnya. Fase ini mencerminkan konsolidasi yang relatif sehat—penyesuaian strategi di tengah lanskap global yang berubah cepat.
Calvin menekankan pentingnya disiplin. “Di fase volatilitas tinggi seperti sekarang, investor perlu lebih mengutamakan manajemen risiko dan tetap rasional. Perhatikan perkembangan geopolitik, harga minyak, serta rilis data ekonomi AS yang memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.”
Di pasar kripto, seperti juga dalam geopolitik, satu pernyataan dapat mengguncang miliaran dolar dalam hitungan menit. Namun di balik gejolak itu, pelaku pasar kembali diingatkan pada prinsip dasar: dalam badai ketidakpastian, strategi yang terukur sering kali lebih bernilai daripada keberanian yang tergesa-gesa. (EHS-01)





