Jakarta (29/4/’26) Makronesia — Menuju pertengahan 2026, dalam tekanan industri retail gadget yang makin ketat akibat gempuran e-commerce dan perang harga digital, Urban Republic justru menunjukkan arah sebaliknya. Berdasarkan data perusahaan, jaringan retail di bawah Erajaya Group ini tumbuh dari hanya 3 toko pada 2016 menjadi 61 toko pada 2026, atau meningkat hampir 20 kali lipat dalam satu dekade. Pertumbuhan itu terlihat jauh melampaui rata-rata pertumbuhan retail nasional yang menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berada di kisaran 8 sampai 10 persen per tahun. Fakta ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah Urban Republic benar-benar menemukan formula bisnis yang lebih tahan banting, atau ada kekuatan ekosistem besar yang menopang laju ekspansinya?
Secara bisnis, Urban Republic tampaknya tidak bermain di arena yang sama dengan retail gadget konvensional. Saat banyak pemain masih bertumpu pada penjualan smartphone dengan margin tipis, Urban Republic membangun ekosistem lifestyle gadget, mulai dari smartwatch, TWS, gaming, smart home, hingga perangkat imaging. Strategi ini dinilai lebih relevan dengan tren konsumsi teknologi saat ini, di mana gadget bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi bagian dari gaya hidup. Data internal mereka bahkan menunjukkan rata-rata transaksi offline tumbuh 53 persen, sementara transaksi member MyEraspace melonjak 326 persen dibanding tahun sebelumnya. Di tengah kondisi industri elektronik yang menurut lembaga riset bisnis mengalami tekanan akibat migrasi konsumen ke marketplace, angka ini menunjukkan Urban Republic tidak hanya bertahan, tetapi mengambil pangsa pasar lebih besar.
Namun, faktor yang sulit diabaikan adalah kekuatan struktur bisnis di belakangnya. Sebagai bagian dari Erajaya Group, Urban Republic memiliki keunggulan distribusi, akses produk premium, jaminan produk original, hingga integrasi ekosistem dengan jaringan seperti iBox dan Erafone. Ditambah strategi omnichannel, program loyalitas, komunitas pelanggan, hingga program keberlanjutan UR Zero Waste, Urban Republic tampaknya membangun model bisnis yang lebih lengkap dibanding sekadar toko gadget biasa. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana mereka bisa bertahan 10 tahun, melainkan apakah strategi berbasis ekosistem, promosi, dan loyalitas ini cukup kuat untuk menjaga pertumbuhan dalam 10 tahun ke depan, ketika persaingan digital semakin liar seperti pasar malam tanpa pagar. (ALIA-MUDIRA)








