Jakarta (29/4/’26) – Era perbankan digital Indonesia sedang berdiri di persimpangan tajam: di satu sisi mempercepat inklusi keuangan, di sisi lain membuka gerbang baru bagi penipuan berbasis kecerdasan buatan. Dalam forum yang digelar Asosiasi Fintech Indonesia bersama ADVANCE.AI di Jakarta, para pelaku industri mengungkap ancaman deepfake kini bukan lagi sekadar bayangan di layar laboratorium, tetapi sudah menjadi senjata nyata untuk membobol sistem keuangan digital. Teknologi yang mampu memalsukan wajah, suara, bahkan identitas secara nyaris sempurna itu disebut berpotensi mengguncang fondasi kepercayaan yang selama satu dekade dibangun sektor jasa keuangan Indonesia.
Alarm itu bukan tanpa alasan. Data yang dirujuk dalam forum tersebut menunjukkan Indonesia telah menerima lebih dari 274 ribu laporan penipuan keuangan sepanjang periode akhir 2024 hingga 2025, dengan total kerugian masyarakat menembus Rp6 triliun. Angka ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan melalui Indonesia Anti Scam Centre (IASC) yang mencatat 274.772 laporan dengan nilai kerugian Rp6,1 triliun. Bahkan, pada Mei 2025 angka kerugian masih berada di Rp2,6 triliun, lalu melonjak hampir 135 persen hanya dalam beberapa bulan. Lonjakan itu menunjukkan lanskap penipuan digital tumbuh seperti gulma elektronik: cepat, liar, dan sulit dicabut.
Dalam diskusi itu, OJK menegaskan lembaga jasa keuangan tak bisa lagi mengandalkan sistem keamanan model lama. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini, menekankan autentikasi berlapis, liveness detection, dan deteksi anomali real-time kini bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama operasional. Sementara AFTECH menilai tiap institusi harus membangun strategi mitigasi yang adaptif sesuai profil risiko masing-masing. Di tingkat global, urgensi ini juga diperkuat laporan Association of Certified Fraud Examiners dan SAS Institute yang menunjukkan 77 persen profesional anti-fraud melihat lonjakan deepfake social engineering, namun hanya 7 persen organisasi yang benar-benar siap menghadapi ancaman itu. Sinyalnya jelas: industri keuangan sedang memasuki era baru, ketika “melihat” dan “mendengar” tak lagi cukup untuk percaya.
Data Pembanding / Angle Kritis:
- Klaim siaran pers: 274.000 laporan scam, kerugian Rp6 triliun.
- Verifikasi data eksternal: OJK/IASC mencatat 274.772 laporan dengan kerugian Rp6,1 triliun, valid dan selaras.
- Tren pertumbuhan: Mei 2025 masih Rp2,6 triliun, Oktober 2025 sudah Rp6,1 triliun, berarti kenaikan hampir Rp3,5 triliun dalam kurang dari lima bulan.
- Konteks global: 77% profesional anti-fraud global melaporkan lonjakan deepfake fraud, tapi hanya 7% organisasi siap menghadapinya.







