• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

NADIEM, OJOL, DAN PERLINDUNGAN SOSIAL?

Editor by Editor
November 10, 2019
in Ekonomi, Makro, Mikro, Nasional
0 0
0
Pemerhati masalah sosial, Pakar Jaring pengaman Sosial.

Pemerhati masalah sosial, Pakar Jaring pengaman Sosial.

Share on FacebookShare on Twitter

Ditulis oleh : Dr. Chazali H. Situmorang, Pemerhati kebijakan Publik; Dosen FISIP UNAS

Untuk kendaraan bermotor roda dua, saat ini berkibar dua perusahaan yang mengendalikan Ojol, yaitu Go-Jek, dan Grab. Yang paling merajai jalanan saat ini adalah Ojol Go-Jek, jaket dan helm hijau mudanya, merajai jalan sepanjang hari dan malam.

RelatedPosts

Hotel Tak Lagi Cukup Punya Kamar, PRISM Baca Perubahan—Industri Siap Ikut atau Tertinggal?

Jogja Printing Expo 2026 Perkenalkan Tinta Berbasis Air dan Mesin Hemat Energi

Jogja Food and Beverage Expo 2026 Hadirkan Ekosistem Industri Pangan Terintegrasi

Mereka mengais rejeki berdasarkan arahan operator Go-Jek yang masuk ke HP para driver on line tersebut. Ada perintah untuk menyemput penumpang di lokasi tertentu, dan sudah ditetapkan dengan tarif tertentu.

Untuk para driver menikmati aktivasi aplikasi sistem yang dibangun Go-Jek tersebut, harus punya rekening khusus yang di isi sejumlah uang, dan dapat ditarik sewaktu-waktu oleh operator sesuai dengan kesepakatan.

Dalam rekening driver tersebut, harus ada saldo sejumlah tertentu, untuk syarat aplikasi dapat terus aktif.

Kembali ke sola driver yang mendapatkan panggilan operator , merespons dan melaju menuju ke lokasi menunggunya penumpang. Misalnya sesuai dengan tarif, ongkosnya Rp.20.000.- maka sesudah diantar ke lokasi, penumpang membayar Rp.20.000.- dan pada saat yang sama saldo di rekening driver tersebut, akan berkurang 20% x Rp. 20.000 = Rp. 4.000.-. Pihak perusahaan Go-Jek menikmati keringat driver sebesar Rp. 4.000 per transaksi. Bayangkan berapa ratusan ribu transaksi per hari dan berapa juta driver ojol Go-Jek maupun Grab.

Modal perusahaan program aplikasi yang dimilikinya, dan hanya memperkerjakan beberapa karyawan saja, dan tidak memerlukan gedung yang besar dan lokasi yang strategis. Artinya biaya operasional perusahaan tersebut, sangat minimalis, dengan margin keuntungan yang terus mengalir ibarat aliran keringat driver bagai air sungai mengalir sampai jauh.

Menurut Djoko Edhi S. Abdulrahman Mantan Anggota Komisi Hukum DPR RI, 2004-2009, diperhitungkan _cash-in_ yang didapat Go-Jek perhari sebesar Rp. 1,4 miliar, maka sebulan Rp.42 miliar. Itu daging semua loh.

*Perlindungan Sosial JKK, dan JKm*

Dalam berbagai kesempatan manajemen Go-Jek menyebutkan hubungan kerja Perusahaan Go-Jek dengan para driver adalah hubungan pekerja bukan penerima upah atau sering disebut dengan pekerja informal. Pihak Go-Jek sudah bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk mempermudah akses pembayaran iuran JKK, dan JKm oleh para pekerja (driver).

Uang membayar iuran dari mana, ya bayar sendiri, dengan hasil keringat yang tidak seberapa dengan resiko kecelakaan pekerjaan yang tinggi di jalanan.

Menarik apa yang dikatakan petinggi Manajemen Go-Jek “Go-Jek berkolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk sediakan kemudahan akses dan membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Go-Jek Shinto Nugroho melalui siaran pers, Senin (14/5/2018).

Melalui program manfaat ini, kata Shinto, mitra driver Go-Jek semakin mudah untuk mendaftar dan membayar iuran jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan. Hanya dengan Rp 16.800 per bulan, mitra driver dapat menerima manfaat berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm).

Jadi Go-Jek hanya memfasilitasi aplikasi pembayaran bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan, tetapi yang membayar driver itu sendiri sebesar Rp. 16.800/bulan, dengan fasilitas manfaat yang didapat jika mengalami kecelakaan akibat kerja, atau kematian, berupa pelayanan kesehatan akibat kecelakaan sampai sembuh, dan santunan jika mengalami cacat serta santunan kematian.

Jika peserta meninggal dunia, ahli waris mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar Rp. 12 juta, santunan sekaligus Rp16.200.000,00; santunan berkala 24 x Rp200.000,00 = Rp4.800.000,00 yang dibayar sekaligus; biaya pemakaman sebesar Rp3.000.000,-

Apakah semua driver Ojol mengikuti JKK dan JKm tersebut?. Ternyata menurut informasi dari pihak kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan hanya sebagian kecil. Bahkan ada yang _on-off_, tiga bulan bayar, menunggak, sebulan bayar bulan berikutnya menunggak, ya tergantung hasil mengkais mereka di jalan raya.

*Dimana Moralitas Perusahaan?*

Sekarang mari kita hitung luar biasanya pendapatan perusahaan, dan tidak sepeser pun mengeluarkan dana perusahaan untuk perlindungan sosial, khususnya JKK, dan JKm.

Sebagaimana diutarakan di atas, pendapatan dari 20% tabungan driver, akumulasinya per hari menurut Joko Edhi, Rp.1,4 miliar, sungguh daging bistik dan membuat bergizi para pemilik perusahaan Go-Jek.

Kalau misalnya pendapatan kotor driver Ojol, per hari Rp.200.000.-, pada saat yang sama pihak perusahaan Go-Jek dapat uang sebesar Rp. 40.000.-/hari (20% x Rp.200.000.-). Iuran JKK dan JKm per hari adalah Rp.16.800 di bagi 30 hari = Rp. 560/hari. Hanya harga setengah batang rokok. Jika iuran sebesar Rp.560/hari tersebut dibayar oleh perusahaan maka angka tersebut hanya 1,4% .

Dengan asumsi pendapatan 20% perusahaan Go-Jek per hari adalah Rp.1,4 miliar, maka angka 1,4% diatas, jika di _take_ _over_ oleh perusahaan, mengeluarkan uang sebesar Rp. 19, 6 juta. Bayangkan hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 19,6 juta/hari dari pemasukan yang dapat dikeruk sebesar Rp. 1,4 miliar / hari.

Di mana moralitas pemilik Ojol?. Kenapa Pemerintah tidak berdaya untuk “memaksa” agar perusahaan membayar iuran JKK dan JKm tersebut?. Dan merasa cukup puas dengan membantu membuka akses untuk pembayaran ke BPJS Ketenagakerjaan, tapi dari kantong driver. Oh malangnya nasib driver Ojol.

Apakah Pemerintah tidak melihat dan mendengar, banyak diantara mereka bahkan sebagian besar tidak sanggup bayar iuran, dan jika pun ada yang mengiur, terputus-putus.

*Pemiliknya menjadi Menteri*

Bagaikan republik mimpi, pemilik Go-Jek dengan pola mengelola perusahaan yang tidak _care_ dengan Perlindungan Sosial bagi pekerjanya, dan merupakan ladang uang perusahaan, tidak mau mengeluarkan dana untuk iuran JKK dan JKm hanya sebesar Rp. 16.800/bulan, dengan manfaat perlindungan sosial yasng telah diutarakan diatas.

Nadiem Makarim, pengusaha _startup_, milenial, punya perusahaan Go-Jek, diangkat oleh Presiden Jokowi, tidak kepalang tanggung jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Mau model pendidikan apa yang hendak dikerjakan Nadiem dan kebudayaan apa yang dikembangkan dan dilestarikan?.

Apalagi sebagaian besar hidupnya terpapar dengan pendidikan luar negeri, dan budaya luar negeri.

Bagaimana Nadiem dapat membangun dunia pendidikan dengan karakter standar moral anak didik, yang mengedepankan nilai-nilai agama, budaya dan karakter bangsa dengan semangat gotong royong.

Tidak mudah dan terasa tidak mungkin, sebab karakter Nadiem sendiri sebenarnya adalah seorang kapitalis, yang mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis keringat driver Ojol.

Kalaupun kita melihat dalam penampilan Nadiem menunjukkan kepedulian pada guru, dan anak didik, tetapi itu semua masih bersifat dipermukaan. Apa agenda di balik kepala Nadiem tidak ada yang mengetahui, apakah Presiden Jokowi mengetahui?, tak jelas.

Banyak yang berpendapat, berilah kesempatan pada Nadiem seorang milenial, yang cerdas dalam melihat masa depan, seperti yang disampaikan saat penetapannya sebagai Mendikbud.

Persoalannya apakah masa depan yang dilihatnya sama dengan penglihatan kita. Apakah Nadiem melihatnya dengan hati, Iman, dan akal sehat. Atau Nadiem melihatnya kedepan, akan berseliweran robot-robot pengganti fungsi manusia, dan 260 iuta rakyat mau dikemanakan?.

Apakah kita ingin menitipkan anak, cucu kita pada Sistem Pendidikan yang di nakhodai Nadiem Makarim dengan pandangan masa depannya itu. Silahkan memikirkannya.

Tags: NadiemOjolPerlindungan Sosial
ShareTweetPin

Related Posts

Hotel Tak Lagi Cukup Punya Kamar, PRISM Baca Perubahan—Industri Siap Ikut atau Tertinggal?

Hotel Tak Lagi Cukup Punya Kamar, PRISM Baca Perubahan—Industri Siap Ikut atau Tertinggal?

April 15, 2026
Jogja Printing Expo 2026 Perkenalkan Tinta Berbasis Air dan Mesin Hemat Energi

Jogja Printing Expo 2026 Perkenalkan Tinta Berbasis Air dan Mesin Hemat Energi

April 9, 2026
Jogja Food and Beverage Expo 2026 Hadirkan Ekosistem Industri Pangan Terintegrasi

Jogja Food and Beverage Expo 2026 Hadirkan Ekosistem Industri Pangan Terintegrasi

April 9, 2026
“Momentum Ziarah Syawali Tegaskan Rumah Rakyat dan Persatuan Jadi Kunci Masa Depan Indonesia”

“Momentum Ziarah Syawali Tegaskan Rumah Rakyat dan Persatuan Jadi Kunci Masa Depan Indonesia”

April 1, 2026
Deklarasi Relawan Nusantara Dukung Prof. Dr. H. Tubagus Bahrudin SE. MM Maju Sebagai Presiden 2029–2034

Deklarasi Relawan Nusantara Dukung Prof. Dr. H. Tubagus Bahrudin SE. MM Maju Sebagai Presiden 2029–2034

March 29, 2026
BMI Kecam Keras Atas Fitnah Terhadap AHY

BMI Kecam Keras Atas Fitnah Terhadap AHY

March 29, 2026

POPULAR

  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Tanpa Drama: 7 Tips Agar Mobil Nggak Ngambek Saat Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Digital
  • Budaya
  • Hiburan
  • Ragam

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In