Mengawal Masa Depan Kelistrikan Aman dan Berkelanjutan: Schneider Electric dan AKLI Jalin Kerja Sama Strategis

Feature17 Dilihat

 

Makronesia.id, Jakarta – Dalam upaya meningkatkan keselamatan ketenagalistrikan di Indonesia, Schneider Electric™, pemimpin global dalam transformasi digital untuk pengelolaan energi dan otomasi, menegaskan komitmennya dengan menjalin kerja sama dengan Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI). Kolaborasi ini diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dalam acara Schneider Electric National Partner Meeting 2025, yang turut dihadiri perwakilan dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kemitraan ini bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan anggota AKLI, khususnya dalam pemanfaatan Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS) seperti Residual Current Circuit Breaker (RCCB) dan Residual Current Circuit Breaker with Overcurrent Protection (RCBO). GPAS, yang sesuai dengan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2020 dan diwajibkan melalui Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2021, berfungsi mendeteksi arus listrik tak seimbang akibat kebocoran arus dan otomatis memutuskan aliran listrik. Dengan teknologi ini, potensi bahaya seperti kebakaran dan sengatan listrik dapat diminimalkan.

Schneider Electric dan AKLI akan menyelenggarakan pelatihan teknis dan workshop tentang instalasi GPAS untuk para kontraktor listrik. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan kelistrikan dan mendorong penggunaan teknologi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Selain fokus pada GPAS, kolaborasi ini mencakup pelatihan teknis untuk meningkatkan keterampilan teknisi listrik dalam pemasangan dan pemeliharaan instalasi listrik. Martin Setiawan, Cluster President Indonesia & Timor Leste, Schneider Electric, menyampaikan, “Keselamatan kelistrikan adalah prioritas utama kami. Dengan kemitraan ini, kami ingin memastikan para profesional memiliki akses ke teknologi dan pelatihan terkini untuk menciptakan praktik kelistrikan yang aman dan efisien, baik di lingkungan residensial maupun komersial.”

Menurut Ir. Hanat Hamidi, M.Si, Koordinator Standarisasi, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, kolaborasi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat regulasi dan penerapan keselamatan ketenagalistrikan. “Produk ber-SNI adalah pilar utama keselamatan kelistrikan. Dengan kolaborasi seperti ini, kita dapat menurunkan risiko kebakaran dan sengatan listrik yang masih menjadi tantangan besar, khususnya di DKI Jakarta, di mana lebih dari 60-70% kasus kebakaran disebabkan oleh masalah kelistrikan,” jelasnya.

Pemerintah sendiri telah melakukan pengukuran arus di berbagai fasilitas publik sebagai bagian dari program penguatan sosialisasi GPAS di seluruh Indonesia.

Puji Muhardi, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat AKLI, menambahkan, “Kerja sama ini adalah tonggak penting untuk memperkuat kompetensi teknis kontraktor listrik di Indonesia dan mendukung keselamatan instalasi listrik. Kami yakin, dengan dukungan Schneider Electric dan pemerintah, kita dapat menciptakan ekosistem kelistrikan yang lebih aman sekaligus mendukung keberlanjutan.”

Schneider Electric dan AKLI berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem kelistrikan Indonesia melalui inovasi, pelatihan, dan edukasi publik. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga menciptakan masa depan kelistrikan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. (EHS-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *