• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Saturday, February 28, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Digital Life

Blockchain sebagai Solusi Transparansi dan Efisiensi dalam Perdagangan Karbon

Redaksi Makronesia by Redaksi Makronesia
September 11, 2024
in Digital Life, Ekonomi, Feature, headline, Opini, Pendidikan, Tekno
0 0
0
Share on FacebookShare on Twitter

Makronesia.id, Jakarta – Seiring dengan meningkatnya kekhawatiran global terhadap perubahan iklim, perdagangan karbon telah muncul sebagai salah satu mekanisme kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Sistem ini memungkinkan perusahaan atau negara yang berhasil mengurangi emisi di bawah kuota yang ditentukan untuk memperdagangkan kredit karbon mereka kepada entitas lain yang membutuhkannya. Namun, meskipun tujuan utamanya jelas untuk mendorong penurunan emisi tantangan seputar transparansi, keandalan, dan efisiensi masih menjadi penghambat utama.

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi blockchain telah berkembang pesat dan memberikan solusi untuk berbagai sektor, termasuk perdagangan karbon. Blockchain, yang pertama kali dikenal sebagai teknologi dasar di balik mata uang kripto seperti Bitcoin, adalah sebuah buku besar digital terdesentralisasi yang mencatat transaksi secara aman dan transparan. Teknologi ini berpotensi membawa perubahan revolusioner dalam mengelola perdagangan karbon dengan cara yang lebih efisien, transparan, dan aman.

RelatedPosts

Ramadan 2026 dan Hari Peduli Sampah Nasional: Tren Pilah Sampah Jadi Gaya Hidup Baru Masyarakat

“Di Tengah Kesakralan Ramadhan, OYO Tebar Diskon 75 Persen: Ibadah atau Perang Tarif?”

Ramadan 2026: Saat Modest Fashion Tak Lagi Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Gaya Hidup

Dalam konteks perdagangan karbon, blockchain menawarkan transparansi penuh pada setiap transaksi yang terjadi. Semua riwayat transaksi mulai dari asal-usul kredit karbon hingga perdagangannya dapat ditelusuri secara real-time. Hal ini mencegah adanya praktek double counting atau manipulasi data, yang sering kali menjadi masalah dalam perdagangan karbon konvensional.

baca juga : Mengguncang Dunia Investasi: Tokenisasi Aset Properti Pertama di Indonesia melalui Blockchain

Selain itu, penggunaan smart contract dalam blockchain dapat mempercepat dan mempermudah transaksi. Dengan smart contract, perjanjian jual-beli kredit karbon bisa dieksekusi secara otomatis tanpa perlu campur tangan pihak ketiga, mengurangi biaya serta waktu yang dibutuhkan. Teknologi ini juga dapat memfasilitasi perdagangan energi terbarukan secara peer-to-peer, sehingga birokrasi yang biasanya melekat pada transaksi besar dapat dipangkas.

Beberapa perusahaan besar telah mulai menerapkan blockchain dalam perdagangan karbon. Misalnya, IBM telah mengembangkan platform berbasis blockchain untuk meningkatkan transparansi dalam perdagangan kredit karbon. Perusahaan lain seperti Veridium juga menggunakan blockchain untuk melacak dan memperdagangkan offset karbon, yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk mengimbangi emisi mereka.

Manfaat dari penerapan blockchain dalam perdagangan karbon terasa oleh berbagai pihak. Penjual kredit karbon dapat menikmati pembayaran yang lebih cepat dan audit yang transparan, sementara pembeli kredit karbon memperoleh kepastian mengenai asal-usul dan validitas kredit yang mereka beli. Di sisi lain, pemerintah dan regulator juga diuntungkan dengan adanya data real-time yang akurat, memungkinkan mereka untuk memantau dan mengatur pasar karbon dengan lebih efektif.

baca juga : Platform Pembayaran Berbasis Blockchain Singapura WadzPay dan XinFin (XDC) Network Mengumumkan Kerjasama Teknologi Strategis

Teknologi ini juga membuka peluang baru dalam hal pembiayaan hijau. Dengan tokenisasi kredit karbon, aset-aset ini dapat diperdagangkan secara global, memperluas jangkauan pasar dan memberikan investor kesempatan untuk terlibat dalam ekonomi hijau. Hal ini tidak hanya membantu transisi menuju ekonomi rendah karbon, tetapi juga mendorong lebih banyak investasi dalam proyek-proyek yang berkelanjutan.

Walau begitu, seperti teknologi baru lainnya, penerapan blockchain dalam perdagangan karbon juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah regulasi. Meskipun blockchain menawarkan transparansi dan efisiensi, implementasinya harus sesuai dengan regulasi dan kebijakan perdagangan karbon yang berlaku di tingkat nasional maupun global.

Adopsi teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Blockchain membutuhkan infrastruktur yang memadai dan integrasi yang lancar dengan sistem perdagangan karbon yang ada. Selain itu, keamanan data juga harus menjadi perhatian utama, mengingat ancaman serangan siber yang bisa mengancam integritas transaksi.

baca juga : Pasar Kripto Indonesia Meledak: Transaksi dan Jumlah Investor Melonjak Signifikan

Di tengah upaya global untuk mengurangi emisi karbon, blockchain muncul sebagai teknologi dengan potensi besar untuk merevolusi perdagangan karbon. Dengan menawarkan transparansi, efisiensi, dan keamanan, blockchain dapat membantu mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. Namun, untuk mencapai potensi penuhnya, tantangan dalam hal regulasi, adopsi teknologi, dan keamanan perlu diatasi.

Dengan solusi yang tepat, blockchain bisa menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem perdagangan karbon yang lebih terintegrasi dan efektif, serta mendorong masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (EHS-01)

ShareTweetPin

Related Posts

Ramadan 2026 dan Hari Peduli Sampah Nasional: Tren Pilah Sampah Jadi Gaya Hidup Baru Masyarakat

Ramadan 2026 dan Hari Peduli Sampah Nasional: Tren Pilah Sampah Jadi Gaya Hidup Baru Masyarakat

February 27, 2026
“Di Tengah Kesakralan Ramadhan, OYO Tebar Diskon 75 Persen: Ibadah atau Perang Tarif?”

“Di Tengah Kesakralan Ramadhan, OYO Tebar Diskon 75 Persen: Ibadah atau Perang Tarif?”

February 27, 2026
Ramadan 2026: Saat Modest Fashion Tak Lagi Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Gaya Hidup

Ramadan 2026: Saat Modest Fashion Tak Lagi Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Gaya Hidup

February 26, 2026
Kurt Cobain Ramai Lagi: Antara Teori Konspirasi, Meme, dan Generasi Anti Baper

Kurt Cobain Ramai Lagi: Antara Teori Konspirasi, Meme, dan Generasi Anti Baper

February 25, 2026
Image by freepik

Mudik Tanpa Drama: 7 Tips Biar Mobil Nggak “Ngambek” Saat Lebaran

February 25, 2026
Kesenjangan Paparan AI Kian Melebar, 86persen Organisasi Terancam Risiko Rantai Pasok dan Kredensial Cloud “Hantu”

Kesenjangan Paparan AI Kian Melebar, 86persen Organisasi Terancam Risiko Rantai Pasok dan Kredensial Cloud “Hantu”

February 24, 2026

POPULAR

  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengubah Kelas Anak Usia Dini Jadi Laboratorium Kreativitas: Gagasan Prof. Farida Mayar di Hari Pengukuhannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Digital
  • Budaya
  • Hiburan
  • Ragam

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
    • Tentang Kami

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In