Jakarta — Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi pengingat penting bahwa pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas, seragam, dan ijazah. Di tengah tantangan global yang bergerak seperti mesin tanpa rem, pendidikan kembali ditegaskan sebagai pondasi utama pembangunan manusia Indonesia. Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) menilai masa depan bangsa tidak cukup hanya ditopang kekayaan sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelola dan mengembangkannya.
Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan, Isfan Fajar Satrio, menegaskan pendidikan nasional harus kembali ditempatkan sebagai strategi besar negara untuk mencetak manusia yang cerdas, sehat, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. Menurutnya, pendidikan adalah investasi strategis bangsa yang akan menentukan apakah Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berkembang atau terus tertahan di persimpangan sejarah. “PKP memandang pendidikan sebagai investasi strategis bangsa. Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena memiliki sumber daya alam, tetapi karena memiliki manusia yang unggul, berintegritas, dan berkarakter kebangsaan,” ujar Isfan.
Data nasional menunjukkan tantangan pendidikan Indonesia masih besar. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 430 ribu satuan pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah, dengan lebih dari 53 juta peserta didik dan sekitar 3,3 juta guru yang menjadi tulang punggung sistem pendidikan nasional. Namun, distribusi kualitas pendidikan masih timpang, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). PKP menilai persoalan kesenjangan akses, mutu pendidikan, ketimpangan fasilitas, lemahnya hubungan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, hingga belum optimalnya pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.
PKP menegaskan pendidikan nasional harus diarahkan untuk membangun human capital Indonesia yang utuh, bukan sekadar tenaga kerja, tetapi manusia dengan kompetensi, karakter, etika, daya saing, dan kesadaran sosial. Dalam pandangan PKP, pendidikan juga harus menjadi alat keadilan sosial, agar seluruh anak bangsa, baik di kota maupun desa, memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan maju. “Pendidikan yang adil dan berkualitas adalah jalan menuju persatuan. Ketika akses pendidikan timpang, maka masa depan bangsa juga ikut timpang. Karena itu, PKP mendorong pendidikan nasional yang merata, relevan, dan berdampak langsung bagi rakyat,” tegas Isfan.
Sebagai bagian dari agenda besar pembangunan manusia, PKP mendorong lima fokus utama pendidikan nasional: pemerataan akses dan mutu pendidikan, penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila, peningkatan kualitas guru dan dosen, penguatan link and match dengan dunia kerja, serta pengembangan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Bagi PKP, membangun pendidikan sama artinya dengan membangun masa depan Indonesia. “Jika manusia Indonesia kuat, maka bangsa ini akan berdiri lebih kokoh, lebih adil, dan lebih bermartabat,” tutup Isfan.







