Jakarta, (21/4), Makronesia.id – PT Cemindo Gemilang Tbk (Semen Merah Putih) mulai menguji coba teknologi penyerap karbon berbasis mikroalga bernama MPTree di pabrik Beton Merah Putih, Jatiasih, Bekasi. Inovasi ini hadir sebagai respons atas keterbatasan ruang terbuka hijau di kawasan industri dan perkotaan, dengan pendekatan yang lebih ringkas namun tetap berbasis sains. MPTree, yang kerap dijuluki “pohon cair”, dirancang untuk menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui sistem fotobioreaktor tertutup.
Teknologi ini dikembangkan bersama AlgaePark Indonesia dan ditujukan untuk bisa beroperasi di area dengan aktivitas tinggi tanpa membutuhkan lahan luas. Dalam pengujian awal, MPTree ditempatkan langsung di lingkungan pabrik guna melihat performanya dalam kondisi nyata, termasuk kemampuan penyerapan karbon, stabilitas sistem, serta integrasi dengan aktivitas operasional.
Hasil sementara menunjukkan MPTree mampu menyerap karbon setara sekitar delapan pohon, dengan target pengembangan hingga setara 16 pohon. Data tersebut masih akan terus divalidasi melalui serangkaian pengujian lanjutan. “Bagi kami, komitmen keberlanjutan Semen Merah Putih dibuktikan melalui langkah nyata yang dapat diuji dan diukur. MPTree adalah bagian dari upaya kami untuk mengembangkan solusi rendah karbon berbasis sains yang relevan dengan kebutuhan ruang perkotaan saat ini,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih.
Secara teknis, MPTree dirancang dengan struktur modular berbahan baja dan dilengkapi kaca tempered laminasi untuk menjaga keamanan operasional. Dengan volume air efektif sekitar 300 liter, sistem ini mengoptimalkan proses fotosintesis mikroalga dalam ruang tertutup. Selain itu, teknologi ini didukung sistem tenaga hybrid dari panel surya dan jaringan listrik, serta dilengkapi sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi seperti kadar CO₂, oksigen, suhu, dan pH secara real time.
Di tengah tantangan kualitas udara di kawasan urban, pendekatan berbasis mikroalga dinilai memiliki keunggulan dalam efisiensi fotosintesis dibandingkan pohon konvensional. Melalui sistem fotobioreaktor, proses tersebut dapat dikontrol secara presisi dan menghasilkan data yang terukur. Karena itu, MPTree tidak hanya berfungsi sebagai alat penyerap karbon, tetapi juga sebagai perangkat riset untuk pengembangan solusi lingkungan ke depan.
“Lewat MPTree, kami membuktikan komitmen keberlanjutan Semen Merah Putih lewat pengujian dan implementasi nyata di lapangan. Fokus kami saat ini adalah memahami kinerja teknologi ini secara menyeluruh, mengumpulkan data yang relevan, dan menjadikannya dasar bagi pengembangan solusi rendah karbon ke depan,” tambah Nyiayu. Sementara itu, Direktur Utama PT Algaepark Indonesia Mandiri, Muhammad Zusron, menegaskan bahwa mikroalga memiliki potensi besar dalam penyerapan karbon. “Melalui sistem photobioreactor, proses penyerapan tersebut dapat dikontrol dan dioptimalkan secara presisi. Kolaborasi ini juga mencerminkan bagaimana inovasi berbasis sains dapat diuji dalam konteks industri sebagai langkah awal menuju penerapan yang lebih luas,” jelasnya.
Ke depan, Semen Merah Putih akan menggunakan hasil pengujian ini sebagai dasar untuk pengembangan lebih lanjut, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas sektor. “Transisi menuju masa depan rendah karbon membutuhkan keberanian untuk memulai, mengukur, dan menyempurnakan. Melalui uji MPTree ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi dan inovasi yang lebih luas dengan banyak pihak, swasta, Pemerintah hingga kalangan aktivis lingkungan, mengembangkan MPTree. Langkah yang jalankan di MPTree adalah ikhtiar bersama dalam menciptakan lingkungan yang bersih demi kehidupan generasi mendatang yang lebih baik,” tutupnya. (Alia Mudira)







