Makronesia.id, Sumbar – Suasana berbeda tampak di Gedung C lantai 2 perpustakaan Politeknik Negeri Padang pada Senin, 11 Mei 2026. Ruang yang biasanya dipenuhi aktivitas akademik itu berubah menjadi panggung sastra yang hangat ketika para profesor dan doktor membacakan puisi dalam kegiatan bertajuk “Kampus Limau Manis”.
Kegiatan yang digelar oleh Unit Penunjang Akademik (UPA) Bahasa PNP tersebut menghadirkan sisi lain dunia kampus: ruang di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan seni dan refleksi kemanusiaan.
Saat ini, Politeknik Negeri Padang memiliki empat profesor dari Jurusan Teknik Mesin dan Administrasi Bisnis, serta 53 doktor yang tersebar di berbagai jurusan. Dalam kegiatan tersebut, para akademisi tidak tampil sebagai pengajar atau peneliti, melainkan sebagai pembaca puisi yang menyuarakan gagasan, keresahan, dan harapan melalui karya sastra.
Kampus Tidak Hanya Tentang Akademik
Kegiatan pembacaan puisi ini dibuka langsung oleh Direktur Politeknik Negeri Padang, Revalin Herdianto. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dosen tidak hanya memiliki peran mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas seni.
Menurut Revalin, kampus harus menjadi tempat yang mendukung lahirnya karya-karya kreatif dari para dosen agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ia juga mengaitkan kegiatan ini dengan semangat yang sebelumnya telah dibangun melalui kegiatan mahasiswa seperti “Pekan Kreativitas Teknologi, Olahraga dan Seni (PKTOS)” dan “PNP Youth Innovators Fest 2026” bertema Membangun Talenta Muda Menuju Padang Juara.
“Melalui kegiatan apresiasi seni dalam membaca puisi dapat meningkatkan penalaran dan pemikiran yang kritis dalam menulis dan juga dalam berkomunikasi,” ungkap Revalin.
Usai membuka acara, ia turut membacakan puisi berjudul Menjaga Mental Sehat Dunia Pendidikan, sebuah karya yang menggambarkan pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan pendidikan yang terus berkembang dan penuh tantangan.
Ketika Dosen Membaca Puisi
Tema besar kegiatan ini adalah “Kekuatan Kaum Muda dalam Menciptakan Pendidikan Bersama.” Tema tersebut menjadi refleksi tentang pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam membangun dunia pendidikan yang lebih inklusif dan kreatif.
Salah seorang dosen yang tampil membacakan puisi, Ulya Ilhamy Arsyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman perdana yang diharapkan dapat terus berlanjut dalam bentuk kolaborasi yang lebih luas.
Menurutnya, ruang-ruang apresiasi seni di lingkungan akademik penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mempererat hubungan antardosen dan sivitas akademika.
Sementara itu, panitia dari UPA Bahasa, Sabriandi Erdian, menjelaskan bahwa ide awal kegiatan ini sebenarnya dirancang untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional pada 1 Mei. Namun karena bertepatan dengan jadwal libur serta rangkaian kegiatan mahasiswa pada 4–9 Mei, pelaksanaan akhirnya dipilih pada 11 Mei 2026.
Dari Panggung Puisi Menuju Antologi
Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti pada pembacaan puisi semata. Seluruh karya yang telah dibacakan rencananya akan dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku bertajuk Antologi Limau Manis.
Rencana tersebut menjadi penanda bahwa budaya akademik di kampus tidak hanya dibangun melalui jurnal ilmiah dan penelitian, tetapi juga melalui karya sastra yang merekam pemikiran, nilai, dan refleksi sosial para akademisi.
Di tengah dunia pendidikan yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi, kegiatan seperti ini menghadirkan pesan sederhana namun penting: kampus bukan hanya ruang produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga rumah bagi kreativitas, empati, dan kebudayaan.
Dan di Limau Manis, puisi tampaknya sedang menemukan rumahnya sendiri. (SAB-02)








