Ini bukan kolaborasi pertama. Indonesia dan Korea Selatan telah menjalin pertukaran literasi dan budaya secara berkala, dan seremoni hari ini menjadi bukti bahwa komitmen itu terus dirawat. Hadir dalam acara tersebut Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz, Konsul Jenderal Kedubes Korea Selatan di Jakarta Kang Won Joon, serta perwakilan KCCI dan masyarakat umum yang memenuhi ruangan dengan antusiasme.
Membaca Korea, Lebih dari Sekadar Layar
Di era ketika Korea hadir di mana-mana — dari platform streaming hingga linimasa media sosial — ada paradoks yang luput dari perhatian: semakin banyak orang menggemari Korea, semakin sedikit yang benar-benar memahaminya secara mendalam. Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyentuh inti persoalan itu dalam sambutannya.
Belajar tentang Korea tidak cukup hanya dari media sosial. Masyarakat perlu bacaan yang lebih mendalam dan tepercaya. Koleksi baru ini akan menjadi daya tarik nyata bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum untuk hadir langsung ke Perpusnas.— E. Aminudin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional RI
Senada dengan itu, para akademisi yang mencermati gelombang budaya Korea di Asia Tenggara menilai bahwa inisiatif seperti ini mengisi celah yang tidak bisa dijangkau oleh konten digital. Buku memberi kedalaman yang berbeda dari sekadar konten viral.
Menurut pakar ilmu perpustakaan, keberadaan koleksi tematik seperti Window of Korea di perpustakaan nasional bukan sekadar soal penambahan rak buku — melainkan soal strategi jangka panjang dalam membangun pemahaman lintas budaya yang berakar kuat.
Perpustakaan publik adalah ruang strategis untuk diplomasi lunak. Ketika suatu negara menitipkan koleksinya di perpustakaan nasional mitra, ia sedang membangun jembatan pengetahuan yang jauh lebih tahan lama dibanding kampanye media mana pun.
— Prof. Dr. Zulfikar Zen, Pakar Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia
Koleksi yang Bicara tentang Manusia, Bukan Hanya Negara
Koleksi 150 buku dan majalah yang diserahkan hari ini sengaja dirancang untuk menjangkau berbagai lapisan pembaca. Mulai dari budaya, sastra, seni, kuliner, hingga pendidikan — termasuk buku-buku yang dirancang khusus untuk anak-anak dan remaja. Pilihan tema itu bukan kebetulan: Korea ingin dikenal bukan sebatas negara dengan ekonomi maju atau industri hiburan yang gemilang, melainkan sebagai bangsa dengan tradisi dan manusia yang kaya cerita.
Konsul Jenderal Kedubes Korea Selatan di Jakarta, Kang Won Joon, yang secara langsung menyerahkan koleksi tersebut, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen resmi dan berkelanjutan Pemerintah Korea.
Dengan hadirnya buku-buku ini, masyarakat Indonesia dapat memperluas pengetahuan tentang Korea dan semakin termotivasi untuk berkunjung ke Korea di masa mendatang. Koleksi ini membuka kesempatan lebih luas bagi pengunjung Perpusnas untuk mengeksplorasi kekayaan tradisi dan budaya Korea.— Kang Won Joon, Konsul Jenderal Kedubes Korea Selatan di Jakarta
Window of Korea sendiri merupakan sudut baca tematik yang telah berdiri di Perpusnas sebagai ruang khusus referensi tentang Korea — dari sejarah, seni pertunjukan, hingga sistem pendidikannya. Layanan ini juga bertujuan memperkuat pertukaran informasi antarperpustakaan di kedua negara, mengingat Korea dan Indonesia telah membangun hubungan diplomatik yang semakin erat dalam beberapa dekade terakhir.
Hallyu Butuh Fondasi, Bukan Hanya Demam
Fenomena Hallyu atau Gelombang Korea telah mengubah cara jutaan orang Asia Tenggara memandang Korea Selatan. Namun para peneliti budaya mengingatkan: minat yang lahir dari layar perlu ditopang oleh literasi yang lebih substansial agar tidak berhenti sebagai tren semata.
Peneliti komunikasi budaya dan studi Korea mencatat bahwa gelombang Hallyu yang melanda Indonesia selama lebih dari satu dekade justru menciptakan kebutuhan mendesak akan literasi yang lebih dalam — dan perpustakaan adalah ruang paling demokratis untuk menjawab kebutuhan itu.
Korean Wave telah membuka minat jutaan orang Asia Tenggara terhadap Korea. Namun minat yang dimulai dari layar harus ditopang oleh literasi yang lebih dalam. Di sinilah peran koleksi perpustakaan menjadi krusial — untuk mengubah penggemar budaya pop menjadi pemahaman lintas budaya yang otentik dan berkelanjutan.
— Dr. Nani Nuraini Yusuf, Peneliti Komunikasi Budaya dan Studi Korea, Universitas Padjadjaran
Dari sisi ekonomi dan industri, investasi dalam akses literasi berbahasa asing pun dipandang sebagai fondasi konektivitas jangka panjang — bukan pengeluaran budaya semata, melainkan infrastruktur kepercayaan antarbangsa.
Pelaku ekonomi yang mengamati hubungan bilateral Indonesia–Korea melihat kolaborasi literasi seperti ini sebagai fondasi kepercayaan yang seringkali luput dari kalkulasi bisnis, padahal dampaknya justru paling bertahan lama.
Ketika masyarakat Indonesia memahami budaya Korea lebih dalam, bukan hanya kunjungan wisata yang meningkat — kepercayaan bisnis lintas batas pun ikut tumbuh. Literasi adalah investasi dalam ekosistem, bukan sekadar program budaya.
— Representatif KADIN Indonesia, Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Budaya Asia Timur
Dunia penerbitan pun melihat pola yang sama. Pertukaran koleksi antarnegara bukan hanya soal buku berpindah tangan — melainkan soal narasi yang bergerak melampaui batas geografis.
Dari perspektif industri penerbitan, Korea termasuk negara yang paling sistematis dalam membangun jalur ekspor budaya melalui buku — dan Indonesia adalah salah satu pasar yang paling strategis untuk investasi jangka panjang itu.
Korea secara konsisten berinvestasi dalam jalur ini karena memahami bahwa buku membentuk narasi jangka panjang — jauh melampaui apa yang bisa dilakukan iklan. Industri penerbitan dan pertukaran koleksi antarnegara adalah salah satu bentuk ekspor budaya yang paling berkelanjutan.
— Direktur Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Divisi Kerja Sama Internasional.
Ketika Dongeng Menjadi Diplomasi
Tidak berhenti pada seremoni penyerahan buku, KCCI melengkapi hari itu dengan dua kegiatan yang menyasar langsung ke akar literasi: Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Korea dan membuat pembatas buku. Keduanya mendapat sambutan hangat dari peserta maupun orang tua yang hadir.
Kompetisi mendongeng dibagi menjadi dua kategori — Anak (di bawah 13 tahun) dan Umum (di atas 13 tahun). Dengan penuh semangat, para peserta membawakan dongeng dari tradisi lisan Korea, menghadirkan suasana literasi yang kreatif sekaligus memperkenalkan budaya Korea lewat cerita yang telah melewati ujian waktu.
Ada sesuatu yang khas dalam cara mendongeng bekerja: ia tidak membutuhkan terjemahan untuk menyentuh. Anak-anak yang belum pernah menginjak tanah Korea bisa tertawa, tegang, dan terharu mendengar kisah-kisah itu — dan di situlah jembatan budaya yang sesungguhnya terbangun, jauh sebelum mereka membuka buku teks atau membeli tiket pesawat.
Window of Korea: Bukan Hanya Rak Buku
Ke depan, Perpusnas berharap Window of Korea tidak hanya berfungsi sebagai ruang baca tematik, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran lintas budaya yang hidup — tempat di mana masyarakat Indonesia bisa mengenal Korea bukan dari jarak yang dibentuk oleh algoritma, melainkan dari kedalaman yang hanya bisa diberikan oleh kata-kata yang ditulis dengan teliti, diterbitkan dengan kesungguhan, dan disimpan dengan penghormatan.
Kerja sama ini sekaligus mempertegas komitmen Perpusnas dalam memperluas akses pengetahuan internasional serta memperkuat diplomasi budaya melalui literasi — sebuah misi yang, dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh konten instan, terasa semakin penting dari hari ke hari. (Ferita/Claude.ai/Alia-Mudira)







