Saya hadir di ruang sidang itu bukan sebagai wartawan, bukan sebagai pengamat biasa — saya hadir sebagai seseorang yang tidak boleh dikenal. Perjalanan ke titik itu tidak pendek: dari jalanan demonstrasi mahasiswa yang melatih ketenangan di bawah tekanan massa, dari rapat-rapat organisasi yang mengajarkan cara membaca manusia dan dinamika kelompok, dari redaksi media yang menanamkan skeptisisme dan empati terhadap cara kerja jurnalis, hingga bertahun-tahun menjadi Media Relations di wilayah krisis dan konflik kepentingan. Vincent Covello, pakar komunikasi risiko dari Columbia University, menyebut fondasi seperti ini sebagai trust determination — bahwa kepercayaan dibangun dari kompetensi, kepedulian, komitmen, dan konsistensi. Sebelum saya bisa mengelola krisis orang lain, saya harus terlebih dahulu membangun keempat hal itu dalam diri sendiri, selama bertahun-tahun, di berbagai medan.
Pada 20 Desember 2023, KPK menggelar Operasi Tangkap Tangan yang mengguncang Indonesia timur. Gubernur Maluku Utara dua periode, Abdul Ghani Kasuba, ditangkap bersama 17 orang di sebuah hotel di Jakarta — diamankan uang Rp 725 juta dari total penerimaan yang diduga mencapai Rp 2,2 miliar. Ia didakwa menerima lebih dari Rp 100 miliar dari kepala dinas dan pengusaha tambang nikel selama 2019–2023, untuk memuluskan perizinan dan jual beli jabatan. Di persidangan Tipikor Ternate, kotak Pandora itu terbuka: kode “Blok Medan” muncul — merujuk pada dugaan pengurusan Izin Usaha Pertambangan di Halmahera Timur yang menyeret nama-nama dari lingkaran kekuasaan Jakarta. Abdul Ghani divonis 8 tahun penjara, wajib membayar uang pengganti Rp 109 miliar, dan meninggal sebagai narapidana pada Maret 2025 sebelum kasasinya selesai. Persidangan inilah yang menjadi medan tempur cerita ini.
Jauh sebelum sidang bergulir, saya telah menyusun dua lapis tim media. Tim pertama: jurnalis Maluku Utara yang mengenal saya baik — kepercayaan yang dibangun dari konsistensi bertahun-tahun, dari telepon tengah malam yang selalu dijawab, dari janji yang tidak pernah diingkari. Tim kedua: kelompok media yang tak mengenal wajah saya, hanya nomor telepon, dengan persepsi yang terbentuk sendiri bahwa saya adalah orang dari lingkup Proyek Strategis Nasional di Jakarta. Saya tidak menciptakan persepsi itu. Saya hanya membiarkannya tumbuh — dan merawatnya dengan hati-hati. Karl Weick menyebut ini sensemaking: dalam situasi penuh ambiguitas, manusia akan mengisi kekosongan informasi dengan narasi yang paling masuk akal bagi mereka. Tugas seorang Media Intelijen adalah memastikan bahwa kekosongan itu terisi oleh sesuatu yang tidak berbahaya. McCombs dan Shaw memperkuat ini lewat Agenda Setting Theory: siapa yang mengendalikan apa yang dipikirkan orang tentang sebuah situasi, dialah yang sesungguhnya mengendalikan situasi itu.
Insting wartawan itu bekerja. Seorang dari Tim kedua memotret saya diam-diam — bermasker, memantau kerumunan — lalu mengirimkan foto itu ke koordinatornya: “Apakah ini orang abang? Kenapa dia foto-foto wartawan terus?” Saya membaca pesan itu. Dan menjawab dengan tenang: “Nanti saya cek di Jakarta ya.” Empat kata. Tidak mengonfirmasi, tidak menyangkal — memindahkan titik fokus ke tempat lain, ke waktu lain, ke referensi yang jauh. Covello menyebut ini message mapping: setiap respons di bawah tekanan harus memiliki tiga komponen — posisi utama, dukungan yang masuk akal, dan pengakuan terhadap kekhawatiran audiens. Empat kata itu memiliki ketiganya secara tersirat, tanpa satu kata berlebih. Dan Mental Noise Theory Covello menjelaskan mengapa ini berhasil: dalam situasi penuh tekanan, kemampuan manusia memproses informasi turun drastis — yang diingat hanyalah yang sederhana, jelas, dan tidak menimbulkan kecurigaan baru.
Sidang berakhir. Beberapa wartawan bergerak ke arah saya secara bersamaan — mengepung dengan cara yang terlihat kasual tapi terstruktur. Pertanyaan menghantam: “Anda siapa?” Dua kata yang beratnya bisa meruntuhkan segalanya jika Anda tidak siap. Saya menarik napas — dan semua lapisan pengalaman itu berbicara sekaligus. Jawaban saya: “Saya hanya bagian dari LSM anti-korupsi berbasis Jogjakarta, bekerja untuk seorang Profesor, memantau persidangan korporasi dan pemerintah daerah.” William Benoit, lewat Image Restoration Theory-nya, mengidentifikasi strategi ini sebagai kombinasi evasion of responsibility dan reducing offensiveness: saya bukan pengambil keputusan, dan tujuan yang saya sebut adalah tujuan yang sama-sama dihormati oleh wartawan. Tidak ada nama yang bisa ditelusuri, tidak ada detail yang bisa diverifikasi cepat, tidak ada kepanikan yang memberi sinyal bahwa ada yang disembunyikan.
Ada prinsip yang tidak pernah saya langgar sepanjang operasi itu: saya tidak boleh membeberkan siapa saya dan dengan siapa saya bekerja. Bukan karena malu, tapi karena dalam dunia Media Relations yang beroperasi di wilayah krisis — identitas agen adalah aset yang harus dijaga seperti nyawa. Covello memperingatkan tentang Negative Dominance: satu berita negatif memiliki bobot lima kali lebih besar dari satu berita positif dalam persepsi publik. Timothy Coombs mempertegas lewat Situational Crisis Communication Theory (SCCT)-nya: tingkat atribusi tanggung jawab yang diberikan publik kepada sebuah organisasi menentukan seberapa dalam kerusakan reputasinya. Jika wartawan itu tahu bahwa agen korporasi tambang hadir memantau dan memotret pers di ruang sidang — atribusi yang terbentuk bukan lagi tentang sidang, tapi tentang operasi bayangan korporasi terhadap kebebasan pers. Frame itu, sekali terpasang, tidak ada pernyataan resmi yang bisa mencabutnya. Setiap keputusan Anda di lapangan mewakili nama orang lain — dan orang lain itu tidak hadir untuk membela dirinya sendiri.
Malam itu, situasi mereda. Saya menghubungi koordinator Tim kedua — bukan untuk menjelaskan diri, tapi memberi mereka satu langkah: “Kalau tidak percaya, koordinasikan ke Kementerian PSN di Jakarta.” Saya tahu mereka tidak akan melakukannya. Birokrasi butuh waktu; wartawan punya deadline. Rasa ingin tahu mereka terisi oleh narasi yang sudah ada, dan mereka kembali fokus pada persidangan. Inilah yang Weick sebut sebagai sensemaking yang berhasil — audiens membangun makna sendiri dari petunjuk yang Anda berikan, dan makna itu cukup memuaskan untuk menghentikan penggalian lebih dalam. Saya memenangkan momen itu bukan dengan kekuatan atau uang — tapi dengan pemahaman mendalam tentang cara manusia berpikir, cara wartawan bergerak, dan cara institusi bekerja: persis perpaduan yang Covello, Coombs, Benoit, McCombs, dan Weick uraikan dalam kerangka teori mereka masing-masing — tapi yang hanya bisa benar-benar dikuasai setelah diuji di lapangan.
Inilah yang ingin saya wariskan kepada setiap Media Relations dan Media Intelijen yang membaca tulisan ini: Anda tidak dibangun dari satu profesi, dan tidak dilahirkan dari satu buku teks. Seorang aktivis mengajarkan Anda keberanian dan ketenangan di bawah tekanan. Seorang organisator mengajarkan Anda membaca manusia. Seorang wartawan mengajarkan Anda skeptisisme dan cara kerja narasi. Dan krisis yang sesungguhnya mengajarkan Anda bahwa Covello benar ketika ia berkata: dalam krisis, audiens lebih dulu menilai apakah Anda dapat dipercaya sebelum mereka menilai apakah Anda benar. Kebenaran faktual tidak berguna jika kepercayaan sudah runtuh. Informasi bukan sekadar berita — ia adalah kekuatan. Dan kekuatan itu hanya aman di tangan orang yang tahu betapa besar konsekuensi dari satu kata yang salah, di waktu yang salah, di hadapan orang yang tepat.
— ✦ —
— Dari catatan lapangan seorang veteran
Aktivis · Organisator · Wartawan · Media Relations · Media Intelijen







