Pernahkah Anda berada di posisi sangat terjepit saat harus menuntaskan tanggung jawab profesional?
Saya pernah. Dan pengalaman itu masih terasa seperti adegan pendek yang diputar ulang oleh ingatan, cepat, menekan, dan nyaris tanpa ruang bernapas.
Waktu itu, awal 2024. Posisi fisik saya berada di Jakarta. Sementara tugas profesional saya berada ribuan kilometer ke timur, di sebuah provinsi kepulauan yang jarang masuk radar banyak orang. Sebuah wilayah tambang strategis, di sebuah pulau kecil, jauh dari pusat kekuasaan, namun sedang menjadi pusat badai.
Salah satu klien kami, perusahaan mineral raksasa dengan kepentingan ekspor tinggi, sedang berada dalam krisis. Seorang direktur operasionalnya terseret perkara hukum besar. Persidangan perdana akan digelar di pengadilan khusus tindak pidana korupsi setempat.
Tugas saya sederhana di atas kertas, tetapi brutal dalam praktik: memastikan sidang itu bisa dipantau secara langsung, real time, tanpa satu detail pun terlewat, dari Jakarta.
Masalahnya, saya belum pernah menginjakkan kaki di wilayah itu. Tidak punya jaringan lokal. Nol. Titik.
Di hari yang sama, saya juga bertanggung jawab mengundang dan mengawal puluhan wartawan nasional untuk sebuah peluncuran merek konsumen di Jakarta. Dua agenda, dua dunia, satu kepala.
Sehari sebelumnya, saya sempat menemukan satu kandidat jaringan lokal. Wartawan dari media nasional yang bermukim di kota pulau tempat pengadilan berdiri. Awalnya sepakat. Namun dua jam sebelum sidang dimulai, sikapnya berubah.
Tugas yang semula disepakati sebagai pemantauan offline, mendadak berubah menjadi siaran daring real time. Ia mulai mencari alasan. Beban, katanya.
Saya tidak punya waktu untuk berdebat.
Sebagai mantan wartawan daerah dan nasional, pernah meliput pengadilan, lembaga antikorupsi, ekonomi, lingkungan, hingga hiburan, saya tahu satu hal: jaringan adalah mata uang paling keras dalam krisis.
Kandidat pertama saya lepas. Saya bergerak lagi.
Satu jam sebelum sidang, saya mendapatkan satu nama. Wartawan media milik negara. Ia bersedia membantu, tetapi berada di wilayah selatan provinsi. Mustahil mengejar waktu ke lokasi sidang di utara. Di titik itulah, kecepatan berpikir menjadi segalanya. Saya memintanya satu hal: satu nama lain. Wartawan muda. Lokal. Dekat dengan lokasi pengadilan.
Nama itu akhirnya datang bersama satu nomor telepon. Tanpa basa-basi, saya menjelaskan situasi. Tugasnya. Tekanannya. Dan imbalan yang adil. Saya tidak membawa nama agensi. Saya hanya mengatakan sedang bekerja untuk sebuah proyek strategis nasional. Di wilayah seperti itu, narasi adalah senjata tempur.
Jawabannya singkat, tapi menyelamatkan hari itu. “Baik, Bang. Saya hadir dan pasang kamera.”
Masalah belum selesai. Koneksi internet di wilayah kepulauan bukan sesuatu yang bisa dijanjikan. Zoom bisa runtuh kapan saja.
“Tidak apa-apa,” kata saya, setengah memaksa. “Gambar apa pun yang ada, kirim. Terputus tidak masalah. Yang penting hadir.”
Sidang dimulai dua jam lebih cepat dari waktu Jakarta. Saat kami di ibu kota masih terjebak perjalanan pagi, kota pulau itu sudah berdetak lebih dulu. Saya berhenti di sebuah rest area. Membuka laptop. Mengaktifkan pertemuan daring. Sambil tetap mengatur agenda wartawan di Jakarta.
Rasanya jungkir balik.
Namun gambar itu akhirnya muncul. Terputus-putus. Goyah. Tapi nyata. Tanggung jawab itu selesai.
Tulisan ini bukan tentang keberhasilan pribadi. Ini catatan kecil bagi mereka yang sedang meniti karier di media, komunikasi, atau manajemen proyek. Jaringan mahasiswa, organisasi, pers, aktivisme, apa pun yang Anda bangun sejak muda, bukan sekadar kenangan idealisme. Di suatu hari yang genting, ia bisa menjadi satu-satunya jembatan di tengah kabut wilayah yang belum pernah Anda petakan.
Jika pengalaman ini layak disimpan, simpanlah sebagai pengingat: profesionalisme sejati sering diuji bukan saat semua fasilitas tersedia, melainkan saat waktu habis, jarak membentang, dan hanya satu hal yang tersisa untuk diandalkan: manusia dan jaringan yang pernah Anda rawat.
Semoga menjadi ibrah.
Penulis : Budi Alimuddin, adalah Senior Media Relations di sebuah organisai PR tertua yang pernah ada di Indonesia. Mantan aktivis mahasiswa, mantan Wartawan Investigasi MajalahDetik.com, Pendiri www.makronesia.id.







