Makronesia.id | Jakarta – Di tengah perlombaan global membangun ekosistem kecerdasan buatan, satu pertanyaan besar muncul: siapa yang akan menjadi tulang punggung AI Indonesia?
Momentum ulang tahun ke-38 Lintasarta menjadi penanda penting. Bukan sekadar selebrasi usia korporasi, melainkan deklarasi transformasi menuju model bisnis baru yang mereka sebut Beyond AI Factory di bawah payung Indosat Ooredoo Hutchison Group.
Di saat kebutuhan komputasi AI global melonjak eksponensial, Lintasarta justru memilih bergerak lebih jauh dari sekadar infrastruktur.
Pertanyaannya: mengapa sekarang?
Secara global, investasi data center berbasis AI tengah memasuki fase agresif. Kawasan Asia Tenggara diprediksi menjadi episentrum baru pertumbuhan digital infrastructure, didorong oleh kebutuhan cloud, AI generatif, dan kedaulatan data nasional. Jakarta sendiri diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan data center tercepat di Asia Tenggara, dengan CAGR hampir 17 persen menurut laporan industri regional.
Bahkan, pemerintah Indonesia tengah menyusun roadmap AI nasional untuk menarik investasi asing sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai AI global.
Dalam konteks itu, langkah Lintasarta terasa seperti membaca arah angin sebelum badai datang.
“Lintasarta tidak hanya beradaptasi terhadap perubahan, tetapi terus mentransformasi diri untuk tetap relevan dan berdampak. Di tengah akselerasi AI dan kompleksitas lanskap digital, kami melangkah melampaui konsep AI Factory, menghadirkan AI sebagai solusi terintegrasi yang siap diskalakan, aman, dan memberikan nilai nyata bagi industri serta Indonesia. Empowering Beyond adalah komitmen kami untuk mendorong adopsi AI yang lebih luas dan berdampak,” ujar Armand Hermawan.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar.
Saat ini, lanskap digital Indonesia bergerak seperti mesin turbo tanpa rem: e-commerce, fintech, layanan publik digital, hingga industrial automation membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibanding lima tahun lalu.
Menurut laporan regional, permintaan data center berbasis AI di Asia Tenggara diperkirakan naik hampir tiga kali lipat hingga 2030, seiring meledaknya kebutuhan pemrosesan data dan inferensi AI.
Lalu, di mana posisi Lintasarta?
Perusahaan ini mengklaim fondasi transformasinya bertumpu pada empat pilar utama: Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration (4C).
Empat fondasi itu bukan sekadar jargon korporasi. Dalam ekonomi digital modern, konektivitas adalah arteri, cloud adalah paru-paru, cybersecurity adalah benteng, dan kolaborasi adalah darah yang membuat ekosistem tetap hidup. Sebuah anatomi digital yang menentukan siapa bertahan dan siapa tersingkir.
Dengan lebih dari 2.000 pelanggan korporasi dan 74.196 jaringan di Indonesia, Lintasarta tampaknya sedang mempersiapkan panggung lebih besar: menjadi orkestrator AI nasional.
Namun pertanyaan lain muncul: cukupkah infrastruktur tanpa talenta?
Di sinilah strategi sosial perusahaan ikut dimainkan.
Pada momentum HUT ke-38, Lintasarta menghadirkan program Lintasarta Peduli Negeri, menjangkau tiga yayasan panti asuhan dan delapan kegiatan sosial, termasuk edukasi literasi digital dan pengenalan AI untuk generasi muda.
Sebuah langkah kecil, tetapi strategis.
Karena dalam ekonomi AI, talenta adalah bahan bakar, sementara teknologi hanyalah mesinnya.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang kami hadirkan tidak hanya relevan, tetapi mampu menciptakan dampak nyata, membuka peluang baru, dan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi masa depan digital. Bersama seluruh ekosistem, kami akan terus melangkah lebih jauh untuk menembus batas,” tutup Armand Hermawan.
Di tengah perlombaan AI yang makin brutal, pertanyaan terbesarnya kini bukan lagi siapa yang punya teknologi, tetapi siapa yang mampu mengorkestrasi ekosistemnya.
Dan pada usia 38 tahun, Lintasarta tampaknya sedang mengajukan diri untuk peran itu.
Bukan sekadar pemain.
Tetapi pengarah lalu lintas masa depan digital Indonesia. (Alia-Mudira)







