Jakarta, Makronesia.id (6/5/26) — Di negeri yang kerap gaduh oleh hiruk-pikuk politik dan riuh percakapan digital, kisah-kisah besar tentang cinta sering kali tenggelam oleh arus waktu. Namun ada satu cerita yang seperti baja tempa: tak lekang, tak patah, dan terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Kisah itu adalah perjalanan cinta B. J. Habibie dan Hasri Ainun Besari.
Bukan sekadar romansa biasa.
Ia adalah kisah tentang kesetiaan yang tumbuh bersama waktu, tentang intelektualitas yang berjalan seiring kasih sayang, tentang pengabdian pada negara yang berkelindan dengan pengorbanan personal.
Di tangan waktu, cinta Habibie dan Ainun menjelma semacam monumen batin bangsa: sunyi, kokoh, dan terus berbicara.
Kini, kisah itu kembali menemukan napas baru.
Bukan lewat buku. Bukan pula lewat layar lebar.
Melainkan melalui panggung musikal.
Di tengah kebutuhan masyarakat akan tontonan yang tak hanya menghibur tetapi juga mendidik dan menginspirasi, Broadwayang Production bersama This is Musical mempersembahkan karya bertajuk “Musikal Sayap Cinta Habibie & Ainun”.
Sebuah pertunjukan seni musikal berskala besar dengan standar produksi profesional yang tetap berpijak kuat pada akar nilai dan budaya Indonesia.
Produksi ini mengangkat kembali kisah cinta legendaris antara Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari Habibie dalam format pementasan ala Broadway, namun dengan denyut Indonesia yang tetap terasa kuat di setiap adegan.
Ada yang membuat pementasan ini tak sekadar menjadi proyek seni biasa.
Broadwayang Production telah mengantongi izin resmi dari Yayasan Habibie & Ainun untuk melaksanakan pementasan ini, dengan kontrak kerja sama berdurasi 50 tahun.
Lima dekade.
Sebuah rentang waktu yang bukan hanya panjang, tetapi juga menjadi penanda bahwa kisah ini diyakini akan terus relevan, bahkan ketika generasi berganti.
Musikal ini meramu banyak unsur dalam satu panggung.
Cerita emosional yang sarat nilai sejarah dan humanisme. Konflik batin yang menggurat. Komitmen yang diuji zaman. Hingga cinta sejati yang tak berhenti bahkan ketika maut datang mengetuk.
Seluruh elemen itu diperkuat oleh all-professional cast. Para pemeran yang tak hanya piawai berakting, tetapi juga memiliki kemampuan menyanyi dan menari dalam satu tarikan napas artistik.
Di atas panggung, tubuh menjadi bahasa. Musik menjadi narasi. Cahaya menjadi emosi.
Produksi ini juga menghadirkan all original jazz and choreography, yang dikembangkan khusus untuk pementasan ini. Baik musik maupun koreografi dirancang dari nol untuk membangun pengalaman musikal yang segar, berkelas, dan berbeda dari lanskap pertunjukan panggung di Indonesia.
Tak ada ruang untuk setengah matang.
Seluruh proses dipersiapkan dengan detail: tata panggung, kostum, pencahayaan, hingga tata suara profesional.
Tujuannya satu: menghadirkan pengalaman teatrikal yang tak sekadar ditonton, tetapi dirasakan.
Sebab pada akhirnya, kisah Habibie dan Ainun bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencintai.
Ia adalah pelajaran tentang bagaimana cinta bisa menjadi energi yang menopang mimpi besar, bagaimana kesetiaan bisa bertahan melewati sakit, jarak, dan kehilangan.
Dan di panggung musikal ini, cinta itu kembali mengepakkan sayapnya.
Bukan untuk dikenang.
Tetapi untuk dihidupkan kembali







