Pasar Properti Jakarta Menguat di Awal 2026, CBRE Ungkap Sinyal Kenaikan Harga Sewa dan Lonjakan Hunian
Makronesia.id, Jakarta — Pasar properti Jakarta mulai menunjukkan penguatan signifikan pada kuartal pertama 2026. Laporan terbaru CBRE Group, Inc. mencatat peningkatan pasokan, tingkat hunian yang stabil, hingga tren kenaikan harga sewa di berbagai sektor properti komersial.
Untuk kawasan non-CBD, Albert mengungkapkan bahwa kehadiran satu proyek baru di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) telah menambah pasokan ruang sebesar 56.000 meter persegi.
“Penyerapan pasar tetap berada pada level yang sehat, yakni sekitar 22.800 meter persegi, dengan tingkat hunian keseluruhan mencapai 72,9 persen,” ujar Albert.
Ia menambahkan, harga sewa di kawasan CBD maupun non-CBD kini mulai menunjukkan pertumbuhan positif, terutama pada gedung-gedung dengan lokasi strategis dan kualitas bangunan yang lebih baik.
“Kami melihat tenant kini semakin selektif. Mereka cenderung memilih gedung dengan kualitas premium dan lokasi yang mampu mendukung efisiensi bisnis,” lanjutnya.
Di sektor industri dan logistik, Ivana Susilo selaku Head of Capital Markets & Industrial Services menegaskan bahwa kinerja pasar masih terus bergerak positif.
“Penyerapan lahan industri pada kuartal pertama mencapai sekitar 86 hektare dengan tingkat hunian sebesar 90,8 persen. Aktivitas di koridor timur Jakarta masih menjadi pendorong utama,” kata Ivana.
Menurut Ivana, tren pembangunan data center kini menjadi salah satu katalis utama yang mendorong peningkatan permintaan di sektor industri.
“Data center memberikan kontribusi signifikan terhadap permintaan lahan industri. Ini menjadi salah satu tren yang paling kuat saat ini,” jelasnya.
Ia juga menyoroti terbatasnya lahan di kawasan mapan seperti Cikarang yang terus memberikan tekanan pada kenaikan harga.
“Keterbatasan lahan di lokasi strategis membuat harga terus bergerak naik. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi investor,” tambah Ivana.
Tak hanya itu, pusat logistik modern juga mencatat tingkat hunian sangat tinggi, mencapai 98 persen.
“Permintaan datang sangat kuat dari sektor e-commerce, FMCG, manufaktur, hingga cold chain. Ini menunjukkan kebutuhan distribusi modern terus tumbuh,” ungkapnya.
Pertumbuhan harga sewa paling mencolok tercatat di wilayah Jakarta dan kawasan Bekasi-Cikarang, didorong oleh konektivitas dan pengembangan infrastruktur yang semakin kuat.
Dari sisi pasar modal, Ivana memastikan minat investor terhadap aset properti inti masih sangat solid.
“Kami masih melihat appetite yang kuat, baik dari investor asing maupun domestik, terhadap aset properti yang mampu memberikan pendapatan rutin,” katanya.
Sementara itu, sektor pusat perbelanjaan juga mencatat tren penguatan pada awal 2026.
“Tingkat hunian mal meningkat hingga 86 persen, dengan permintaan bersih mencapai sekitar 15.600 meter persegi,” ujar Anton Sitorus.
Anton menjelaskan, peningkatan tersebut didorong oleh ekspansi tenant F&B, lifestyle, serta peritel hiburan dan leisure yang terus agresif membuka pasar baru.
“Pusat perbelanjaan premium tetap menjadi yang berkinerja terbaik dengan tingkat hunian di atas 95 persen,” jelas Anton.
Menurutnya, mal yang mampu menghadirkan konsep berbasis pengalaman dan gaya hidup modern kini menikmati lonjakan traffic pengunjung sekaligus peningkatan minat tenant baru.
Sebagai penutup, Angela Wibawa menegaskan bahwa pasar properti Jakarta saat ini tengah berada dalam fase transisi penting.
“Pasar properti saat ini lebih matang dan lebih seimbang. Pertumbuhannya mungkin tidak secepat siklus sebelumnya, tetapi jauh lebih berkelanjutan,” tegas Angela.
Ia menilai kondisi ini menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan pasar properti Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.
“Fundamental pasar kini lebih sehat, pasokan lebih terkendali, dan kepercayaan pasar terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bagi masa depan sektor properti Jakarta,” pungkasnya. (REK)







