• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Friday, May 15, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Kalau Nggak Merasa Aman, Bagaimana Mau Maksimal? Ini yang Dibutuhkan Perempuan di Tempat Kerja

Editor by Editor
May 14, 2026
in Pendidikan, Ragam
0 0
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, (13/5) Makronesia.id — Zaman sekarang, perempuan udah jauh lebih selektif soal pilihan karier. Bukan cuma soal gaji atau jenjang jabatan, tapi ada satu hal yang jadi deal-breaker buat banyak dari mereka: rasa aman. Bukan rasa aman yang cuma tertulis di SOP perusahaan, tapi yang beneran terasa dalam keseharian — dari cara rekan kerja berkomunikasi, gimana atasan merespons ide, sampai apakah seseorang bisa jadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Ketika fondasi itu ada, barulah perempuan bisa fokus pada yang paling penting: berkarya, berkontribusi, dan terus berkembang.

Angka-angka dari lembaga riset global mempertegas realita ini. Survei Deloitte Women @ Work 2025 yang melibatkan 7.500 perempuan di 15 negara menemukan bahwa 1 dari 3 perempuan (33%) masih khawatir soal keamanan pribadi mereka di tempat kerja, sementara 34% mengalami perilaku tidak inklusif — paling sering dalam bentuk microaggression. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 1 dari 10 responden yang percaya bahwa laporan atas perilaku tidak inklusif akan benar-benar ditindaklanjuti, terlepas dari seberapa senior pelakunya. Deloitte menegaskan: “Creating a workplace where women can thrive isn’t about a single policy or a grand gesture. It’s about cultivating a culture of genuine support, flexibility, and respect every single day.” Deloitte

RelatedPosts

Wajah Tanpa Nama di Ruang Sidang

Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

Buku sebagai Jembatan: Perpusnas dan Kedubes Korea Selatan Perkuat Diplomasi Budaya lewat Hibah 150 Koleksi Berbahasa Korea

Kondisi ini makin terasa berat buat perempuan yang berkarier di industri yang secara historis male-dominated, seperti infrastruktur dan konstruksi. Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih (PT Cemindo Gemilang Tbk.), yang punya pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia marketing communications, berbicara langsung soal ini. “Tempat kerja adalah rumah kedua bagi banyak dari kita — tempat untuk belajar dan berkembang. Karena itu, penting bagi lingkungan kerja untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman seperti di rumah. Dengan begitu, setiap individu bisa bekerja lebih baik dan berkembang secara maksimal,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Apalagi bekerja di industri yang masih sering dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’ membuat saya melihat langsung bagaimana ruang yang benar-benar aman dan suportif penting, apalagi bagi perempuan.” Ketika lingkungan itu ada, menurutnya, perempuan bukan hanya merasa lebih tenang — tapi juga lebih percaya diri menyampaikan perspektif mereka, yang pada akhirnya mendorong kualitas kolaborasi dan kinerja tim secara keseluruhan.

Data dari McKinsey Women in the Workplace 2025 juga menunjukkan bahwa psychological safety — keyakinan bahwa seseorang nggak akan dihukum atau dipermalukan saat menyampaikan ide atau mengakui kesalahan — adalah kunci agar perempuan mau mengambil peran yang lebih besar. Di level C-suite, perempuan masih hanya mewakili 29% dari total posisi, angka yang stagnan dibanding tahun sebelumnya. McKinsey mencatat bahwa perusahaan terbaik dalam hal ini punya satu kesamaan: pemimpin senior yang secara aktif mengomunikasikan bahwa perilaku tidak sopan tidak diterima di lingkungan kerja mereka. Di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat data yang senada: dalam kurun 2017–2021, terdapat 517 pelaku kekerasan seksual di tempat kerja — 326 di antaranya adalah rekan kerja, dan 191 adalah atasan. Komnas Perempuan menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender di tempat kerja berdampak langsung pada “kondisi kerja yang tidak aman, terhambatnya proses kerja, tekanan psikis, dan penurunan produktivitas.” Artinya jelas: rasa aman bukan privilege — ini soal hak dasar yang juga berujung pada performa bisnis. Budaya kerja yang sehat, sistem yang jelas, dan komitmen kolektif dari semua pihak bukan lagi opsional. Ini adalah the new non-negotiable. (alia-mudira)

Tags: budaya kerja inklusifDeloitte women at work 2025gender equality dunia kerjakeamanan perempuan di tempat kerjakekerasan seksual tempat kerjalingkungan kerja sehat perempuanMcKinsey women in workplaceNyiayu Chairunnikmaperempuan industri konstruksipsychological safety perempuanrasa aman kerjasemen merah putihwomen in workplace Indonesiaworkplace safety women Indonesia
ShareTweetPin

Related Posts

Wajah Tanpa Nama di Ruang Sidang

Wajah Tanpa Nama di Ruang Sidang

May 12, 2026
Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

May 11, 2026
Buku sebagai Jembatan: Perpusnas dan Kedubes Korea Selatan Perkuat Diplomasi Budaya lewat Hibah 150 Koleksi Berbahasa Korea

Buku sebagai Jembatan: Perpusnas dan Kedubes Korea Selatan Perkuat Diplomasi Budaya lewat Hibah 150 Koleksi Berbahasa Korea

May 10, 2026
Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” Tayang 13 Mei 2026 — Drama Keluarga Terbaru Baim Wong Dibintangi Reza Rahadian & Christine Hakim

Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” Tayang 13 Mei 2026 — Drama Keluarga Terbaru Baim Wong Dibintangi Reza Rahadian & Christine Hakim

May 11, 2026
PKP Tegaskan Pendidikan Nasional Harus Jadi Fondasi Utama Pembangunan Manusia Indonesia

PKP Tegaskan Pendidikan Nasional Harus Jadi Fondasi Utama Pembangunan Manusia Indonesia

May 2, 2026
Kisah Cinta Habibie-Ainun Kembali Hidup di Panggung, Ada Izin Khusus untuk Dipentaskan 50 Tahun”

Kisah Cinta Habibie-Ainun Kembali Hidup di Panggung, Ada Izin Khusus untuk Dipentaskan 50 Tahun”

May 6, 2026

POPULAR

  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
  • Login

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In