Jakarta, (13/5) Makronesia.id — Zaman sekarang, perempuan udah jauh lebih selektif soal pilihan karier. Bukan cuma soal gaji atau jenjang jabatan, tapi ada satu hal yang jadi deal-breaker buat banyak dari mereka: rasa aman. Bukan rasa aman yang cuma tertulis di SOP perusahaan, tapi yang beneran terasa dalam keseharian — dari cara rekan kerja berkomunikasi, gimana atasan merespons ide, sampai apakah seseorang bisa jadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Ketika fondasi itu ada, barulah perempuan bisa fokus pada yang paling penting: berkarya, berkontribusi, dan terus berkembang.
Angka-angka dari lembaga riset global mempertegas realita ini. Survei Deloitte Women @ Work 2025 yang melibatkan 7.500 perempuan di 15 negara menemukan bahwa 1 dari 3 perempuan (33%) masih khawatir soal keamanan pribadi mereka di tempat kerja, sementara 34% mengalami perilaku tidak inklusif — paling sering dalam bentuk microaggression. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 1 dari 10 responden yang percaya bahwa laporan atas perilaku tidak inklusif akan benar-benar ditindaklanjuti, terlepas dari seberapa senior pelakunya. Deloitte menegaskan: “Creating a workplace where women can thrive isn’t about a single policy or a grand gesture. It’s about cultivating a culture of genuine support, flexibility, and respect every single day.” Deloitte
Kondisi ini makin terasa berat buat perempuan yang berkarier di industri yang secara historis male-dominated, seperti infrastruktur dan konstruksi. Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih (PT Cemindo Gemilang Tbk.), yang punya pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia marketing communications, berbicara langsung soal ini. “Tempat kerja adalah rumah kedua bagi banyak dari kita — tempat untuk belajar dan berkembang. Karena itu, penting bagi lingkungan kerja untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman seperti di rumah. Dengan begitu, setiap individu bisa bekerja lebih baik dan berkembang secara maksimal,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Apalagi bekerja di industri yang masih sering dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’ membuat saya melihat langsung bagaimana ruang yang benar-benar aman dan suportif penting, apalagi bagi perempuan.” Ketika lingkungan itu ada, menurutnya, perempuan bukan hanya merasa lebih tenang — tapi juga lebih percaya diri menyampaikan perspektif mereka, yang pada akhirnya mendorong kualitas kolaborasi dan kinerja tim secara keseluruhan.
Data dari McKinsey Women in the Workplace 2025 juga menunjukkan bahwa psychological safety — keyakinan bahwa seseorang nggak akan dihukum atau dipermalukan saat menyampaikan ide atau mengakui kesalahan — adalah kunci agar perempuan mau mengambil peran yang lebih besar. Di level C-suite, perempuan masih hanya mewakili 29% dari total posisi, angka yang stagnan dibanding tahun sebelumnya. McKinsey mencatat bahwa perusahaan terbaik dalam hal ini punya satu kesamaan: pemimpin senior yang secara aktif mengomunikasikan bahwa perilaku tidak sopan tidak diterima di lingkungan kerja mereka. Di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat data yang senada: dalam kurun 2017–2021, terdapat 517 pelaku kekerasan seksual di tempat kerja — 326 di antaranya adalah rekan kerja, dan 191 adalah atasan. Komnas Perempuan menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender di tempat kerja berdampak langsung pada “kondisi kerja yang tidak aman, terhambatnya proses kerja, tekanan psikis, dan penurunan produktivitas.” Artinya jelas: rasa aman bukan privilege — ini soal hak dasar yang juga berujung pada performa bisnis. Budaya kerja yang sehat, sistem yang jelas, dan komitmen kolektif dari semua pihak bukan lagi opsional. Ini adalah the new non-negotiable. (alia-mudira)







