• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Friday, May 29, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Faktanya Industri Baja Nasional Kolaps!

Editor by Editor
November 21, 2019
in Ekonomi, Makro, Mikro
0 0
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, MAKRONESIA.ID – Fakta tak terbantahkan, Industri baja nasional Indonesia nyaris runtuh. Makronesia.id mencatat, sedikitnya tiga pabrik baja di Indonesia sudah tutup.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Tbk Silmy Karim mengakui soal penutupan tiga pabrik baja di Indonesia. Ia bilang itu fakta yang benar-benar terjadi karena serbuan baja impor terutama dari China.

“Itu fakta, banyak yang tutup, baik itu swasta kita juga mengalami tekanan makanya restrukturisasi,” kata Silmy di Jakarta, Kamis (21/11)

Menurutnya, Pabrik yang masih beruntung memang masih ada.  Hanya saja, pabrik baja itu harus beroperasi dengan kehati-hatian. “Megap-megap”, istilah Silmy.  Ia menguraikan, dengan pemanfaatan kapasitas produksi (utilisasi) sangat minim dalam rentang 30 persen-60 persen, sulit bagi industri dapat untung. Di sektor industri baja lapis seng (Bj.LS) dan baja aluminium Seng (Bj.LAS) utilisasi atau kapasitas produksi yang terpakai hanya berkisar 35-38 persen. 

Berulangkali kali dalam berbagai kesempatan Silmy mengungkapkan, sejumlah faktor menjadi pemicu baja impor deras masuk ke Indonesia, sehingga membuat beberapa pabrik baja di Indonesia kolaps.

Pertama, Permendag No 110 tahun 2018 tentang ketentuan impor besi baja dan baja panduan dan produk turunannya, yang sebelumnya diatur pada Permendag No 22 tahun 2018, yang menyebabkan penghapusan pertimbangan teknis sebelum impor baja. Hal ini menyebabkan impor baja semakin mudah dan tidak ada sistem kontrol izin impor.

Kedua, praktik menghindari terutama dalam impor baja, antara lain praktik pengalihan pos tarif impor (HS Code) baja karbon menjadi paduan. Selain itu, baja karbon untuk konstruksi dialihkan menjadi baja paduan dengan harga yang lebih murah dari baja karbon.

Harga baja paduan impor dari China sangat murah karena mendapatkan keunggulan tax rebate atau insentif bagi para eksportir sebesar 9%-13%. Negara pemasok baja impor khususnya China terhindari dari bea masuk anti dumping 20% karena ada perdagangan bebas ASEAN-China atau ACFTA.

Ketiga, kebijakan Trump yang memicu perang dagang membuat produk-produk baja impor China yang biasa masuk Amerika Serikat (AS) tak bisa masuk lagi, sehingga ada pengalihan pasar ke Asia Tenggara.

Keempat, hadirnya perdagangan bebas, membuat bea masuk umum atau most favoured Nation (MFN) untuk produk baja telah diturunkan dan sampai 0%.

Untuk itu, Silmy mendesak perlu ada langkah-langkah strategis dari pemerintah khususnya melakukan perombakan regulasi. Sedangkan bagi industri baja seperti Krakatau Steel melakukan restrukturisasi keuangan hingga organisasi, agar bisa tetap bertahan dari serbuan baja impor yang belum bisa ditangani.

“Jadi selain restrukturisasi utang, restrukturisasi bisnis, restrukturisasi organisasi sekarang tambah restrukturisasi regulasi,” kata Silmy.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur pada kuartal III-2019 tumbuh melambat, dan paling parah adalah industri baja. Industri barang logam bukan mesin dan peralatannya mengalami penurunan paling dalam, yakni 22,95% secara tahunan (yoy).

Dari data BPS lain, pada Januari-Maret 2019 saja, impor baja meningkat 14,65% sebanyak 2,7 juta ton dibanding periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 2,4 juta ton. (AB/CNBCI/AM)

RelatedPosts

TRILIUNAN DANA NASABAH RAIB, HANYA 20–30% BISA KEMBALI

Salah Rute Jadi Biaya Tersembunyi Ekonomi Jalanan

Tengah Tahun 2026: Saatnya Cek Dompet Sebelum Financial Goals “Ghosting” dari Rencana

Tags: BajaPT Karakatau SteelSilmy Karim
ShareTweetPin

Related Posts

TRILIUNAN DANA NASABAH RAIB, HANYA 20–30% BISA KEMBALI

TRILIUNAN DANA NASABAH RAIB, HANYA 20–30% BISA KEMBALI

May 14, 2026
Salah Rute Jadi Biaya Tersembunyi Ekonomi Jalanan

Salah Rute Jadi Biaya Tersembunyi Ekonomi Jalanan

May 13, 2026
Tengah Tahun 2026: Saatnya Cek Dompet Sebelum Financial Goals “Ghosting” dari Rencana

Tengah Tahun 2026: Saatnya Cek Dompet Sebelum Financial Goals “Ghosting” dari Rencana

May 11, 2026
Lo Dikira Aman Online? Asia Tenggara Habis $23,6 Miliar Gara-Gara Scammer

Lo Dikira Aman Online? Asia Tenggara Habis $23,6 Miliar Gara-Gara Scammer

May 14, 2026
Grafis Judi Onlien dan Dampaknya Bagi Masyarakat Indonesia

Mesin Penghisap Uang Rakyat

May 10, 2026
Seminar Perunggasan AGRIMAT 2026: Peternak Rakyat Tuntut Hilirisasi, Pakar Ingatkan Risiko Kebijakan

Seminar Perunggasan AGRIMAT 2026: Peternak Rakyat Tuntut Hilirisasi, Pakar Ingatkan Risiko Kebijakan

May 16, 2026

POPULAR

  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
  • Login

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In