JAKARTA, Makronesia.id – Perusahaan layanan teknologi global NTT DATA memperluas kemitraannya dengan Google Cloud untuk mempercepat implementasi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan bisnis melalui platform Gemini Enterprise. Langkah ini ditandai dengan pembentukan unit layanan khusus Gemini Enterprise, target pencetakan 5.000 ahli Gemini bersertifikasi secara global, serta pengembangan hingga 500 AI Agent untuk berbagai kebutuhan industri.
Kolaborasi tersebut bertujuan membantu perusahaan beralih dari tahap eksperimen AI menuju implementasi berskala besar. NTT DATA dan Google Cloud menggabungkan kemampuan platform AI, data, dan cloud dengan layanan konsultasi, implementasi, serta pengelolaan teknologi yang selama ini menjadi kekuatan NTT DATA.
CEO dan Chief AI Officer NTT DATA Inc., Abhijit Dubey, mengatakan perusahaan membutuhkan pendekatan yang lebih praktis untuk memperluas adopsi AI, memperkuat tata kelola, meningkatkan kesiapan tenaga kerja, serta menghasilkan nilai bisnis yang terukur.
Menurut NTT DATA, inisiatif ini akan mendukung pengembangan AI Agent untuk berbagai sektor seperti perbankan, asuransi, manufaktur, ritel, pemasaran, pengadaan, hingga operasional keuangan.
Namun di balik optimisme tersebut, transformasi menuju era AI Agent juga memunculkan sejumlah tantangan yang relevan bagi Indonesia.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report memperkirakan teknologi AI dan pemrosesan informasi akan memengaruhi sekitar 86 persen bisnis dunia hingga 2030. Di sisi lain, teknologi tersebut diproyeksikan menciptakan 170 juta pekerjaan baru sekaligus menggantikan sekitar 92 juta pekerjaan yang ada saat ini.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak semata menjadi ancaman bagi tenaga kerja, tetapi juga menciptakan kebutuhan terhadap kompetensi baru yang lebih kompleks.
Bagi Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya adopsi teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia. Keterampilan di bidang AI, cloud computing, keamanan siber, dan rekayasa data diperkirakan akan menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, implementasi AI Agent secara luas juga berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan administratif yang bersifat rutin dan repetitif. Karena itu, upaya peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi faktor kunci agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan lebih merata.
Di sisi lain, strategi AI berbasis cloud juga menimbulkan pertanyaan mengenai kedaulatan data, keamanan informasi, serta ketergantungan terhadap infrastruktur teknologi global. NTT DATA menyatakan bahwa pendekatan yang digunakan akan mendukung konsep sovereign AI atau AI yang memenuhi persyaratan regulasi dan lokasi penyimpanan data sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Menariknya, survei global yang dilakukan NTT DATA menunjukkan 99 persen perusahaan mengakui bahwa AI meningkatkan kebutuhan investasi cloud. Namun 88 persen responden juga menyatakan tingkat investasi cloud saat ini masih berisiko menghambat inisiatif AI dan modernisasi digital.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi AI tidak hanya membutuhkan teknologi canggih, tetapi juga investasi besar, strategi tata kelola yang matang, serta kesiapan tenaga kerja yang memadai.
Bagi Indonesia, kehadiran AI Agent dapat menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri. Namun tanpa program reskilling yang kuat, regulasi perlindungan data yang memadai, dan pembangunan kapasitas digital nasional, manfaat ekonomi dari revolusi AI berisiko tidak dinikmati secara merata oleh masyarakat.
Karena itu, perluasan kemitraan NTT DATA dan Google Cloud tidak hanya menjadi kabar tentang teknologi baru, tetapi juga pengingat bahwa transformasi AI pada akhirnya akan ditentukan oleh kesiapan manusia yang menggunakannya. (alia-mudira)







