Menurut Isfan, bangsa Indonesia tidak kekurangan Pancasila dalam pidato maupun dokumen negara. Persoalan sesungguhnya terletak pada sejauh mana nilai-nilai itu benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi PKP, tantangan bangsa hari ini bukan lagi menemukan Pancasila, melainkan menghidupkan Pancasila dalam manusia Indonesia. Pancasila bukan hanya dasar negara. Pancasila adalah fondasi pembangunan manusia Indonesia dan cara hidup bangsa Indonesia.”
PKP menilai perubahan sosial-budaya yang berlangsung perlahan namun mendasar menjadi ancaman paling nyata. Di ruang publik, sopan santun semakin tergerus, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, musyawarah digantikan saling mencela, dan kehidupan digital mendorong polarisasi. Pada saat yang sama, berbagai pengaruh global masuk tanpa penyaringan yang memadai terhadap nilai-nilai pembentuk karakter bangsa.
Partai yang didirikan pada 1999 oleh sejumlah tokoh militer senior ini menegaskan bahwa modernitas tidak boleh dimaknai sebagai peninggalan jati diri bangsa. Kemajuan teknologi dan keterbukaan terhadap dunia harus tetap berpijak pada karakter Indonesia — gotong royong, tenggang rasa, dan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. PKP juga menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara agama, kebudayaan, dan kebangsaan agar kehidupan beragama menjadi sumber akhlak dan persaudaraan, bukan alasan menghapus keberagaman budaya lokal.
“Pancasila tidak lahir di ruang kosong. Pancasila lahir dari pengalaman hidup bangsa Indonesia sendiri. Karena itu, menjaga Pancasila berarti menjaga karakter bangsa Indonesia, menjaga budaya gotong royong, menjaga persatuan, menjaga penghormatan kepada sesama, dan menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan kebangsaan.”
Dalam konteks itu, PKP menempatkan pembangunan kualitas manusia Indonesia sebagai prioritas perjuangan partai, meliputi pendidikan bermutu, kesehatan merata, kesempatan kerja produktif, penguatan karakter kebangsaan, serta tata kelola pemerintahan yang berintegritas. Generasi muda dinilai menghadapi tantangan ganda: bersaing secara ekonomi global sekaligus mempertahankan identitas kebangsaan di tengah derasnya arus informasi.
“Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka kita tidak cukup membangun infrastruktur, industri, atau teknologi. Kita harus membangun manusia Indonesia yang Pancasilais: sehat, cerdas, berintegritas, berbudaya, menghormati keberagaman, dan memiliki semangat gotong royong.”
PKP menegaskan, ketika kehidupan sosial masih menjunjung persaudaraan dan perbedaan dapat dikelola lewat musyawarah, Pancasila hidup dan bekerja dalam kehidupan bangsa. Sebaliknya, jika masyarakat semakin terpecah, intoleran, dan tercerabut dari akar budayanya, Pancasila berisiko tinggal sebagai simbol formal yang kehilangan daya hidup. Pada Hari Lahir Pancasila tahun ini, PKP mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghidupkan Pancasila bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi juga dalam pendidikan, keluarga, ruang publik, dan pembangunan manusia Indonesia secara nyata. (Alia-Mudira)







