Jakarta, Makronesia.id, (11/5) — Perusahaan teknologi global NTT DATA resmi meluncurkan layanan berbasis kecerdasan buatan bernama Software Defined Infrastructure (SDI) Services Agent untuk membantu perusahaan mengelola infrastruktur TI multivendor secara otomatis dan real-time. Teknologi ini diperkenalkan di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap sistem operasional digital yang semakin kompleks, terutama ketika AI mulai menjadi “otak kedua” dalam pengelolaan jaringan, pusat data hybrid, keamanan siber, hingga lingkungan kerja digital.
Dalam siaran pers yang diterima media, layanan baru tersebut disebut mampu menghadirkan visibilitas real-time, analisis prediktif, hingga pengambilan keputusan berbasis AI melalui pendekatan agentic AI, yakni sistem multi-agent yang bekerja secara otonom namun tetap berada dalam kendali manusia.
“Layanan infrastruktur tradisional semakin tidak sesuai dengan tuntutan perusahaan yang didorong oleh kecerdasan buatan,” ujar Chris Barnard, Vice President, IDC. “NTT DATA membedakan dirinya melalui pengalaman layanan multivendor berbasis agentic yang mengutamakan inovasi. Pendekatan yang mengutamakan kecerdasan buatan ini memungkinkan para pemimpin di bidang infrastruktur untuk keluar dari model pemeliharaan tradisional dan berfokus pada hasil dalam skala besar.”
Peluncuran ini sekaligus menjadi penanda bahwa transformasi AI di sektor korporasi kini tidak lagi sekadar chatbot atau automasi sederhana. AI mulai ditempatkan langsung di “ruang mesin” operasional perusahaan. Namun di Indonesia, adopsi AI untuk pengelolaan infrastruktur bisnis masih menghadapi sejumlah tantangan klasik. Laporan McKinsey & Company dan World Economic Forum dalam beberapa tahun terakhir mencatat bahwa banyak perusahaan di negara berkembang masih terkendala kualitas data yang buruk, integrasi sistem lama (legacy system), keterbatasan talenta AI, hingga biaya migrasi cloud yang tinggi. Di Indonesia sendiri, sejumlah perusahaan masih menghadapi persoalan dasar seperti ketimpangan kualitas jaringan internet antarwilayah, fragmentasi sistem administrasi kantor, hingga tingginya risiko serangan siber terhadap infrastruktur digital perusahaan. Studi dari jurnal-jurnal teknologi seperti IEEE Access dan Harvard Business Review bahkan menyebutkan bahwa banyak implementasi AI di lingkungan bisnis gagal mencapai target karena organisasi belum memiliki “AI-ready infrastructure” yang matang.
Di sisi lain, kompleksitas infrastruktur multivendor juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Banyak kantor dan korporasi menggunakan kombinasi perangkat dari vendor berbeda, mulai dari server, sistem keamanan, cloud, hingga jaringan internal. Situasi ini sering memunculkan “pulau-pulau sistem” yang sulit saling terhubung. Kehadiran SDI Services Agent dari NTT DATA mencoba menjawab persoalan tersebut dengan pendekatan percakapan berbasis natural language prompts, sehingga administrator TI dapat berinteraksi dengan sistem infrastruktur layaknya berbicara dengan asisten digital.
“Seiring organisasi mempercepat adopsi AI, fondasi infrastruktur yang aman dan berstandar perusahaan, yang dipadukan dengan pengalaman layanan agentic berbasis percakapan, menjadi pembeda strategis bagi bisnis,” ujar Dilip Kumar, Global Head, Infrastructure Solutions, NTT DATA, Inc. “Layanan SDI berbasis agentic kami memungkinkan perusahaan melampaui sekadar operasi ‘lights on’ dan mengubah kinerja infrastruktur menjadi hasil yang terukur.”
Tren ini memperlihatkan bahwa persaingan transformasi digital kini bukan lagi sekadar soal siapa paling cepat mengadopsi AI, melainkan siapa yang paling siap membangun fondasi infrastrukturnya. Di tengah ledakan kebutuhan komputasi AI global, perusahaan-perusahaan Indonesia mulai memasuki fase baru: bukan hanya memakai AI untuk bekerja lebih cepat, tetapi juga menyerahkan sebagian pengambilan keputusan operasional kepada mesin yang terus belajar setiap detik. Sebuah era baru yang terdengar futuristik, namun perlahan mulai mengetuk ruang server kantor-kantor di Jakarta hingga kawasan industri nasional lainnya.







