• Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Thursday, May 28, 2026
MAKRONESIA.ID
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
    • Mikro
    • Makro
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan
No Result
View All Result
Makronesia.id
No Result
View All Result
Home Budaya

Angka Laju Deforestasi Kian Turun

Editor by Editor
August 6, 2023
in Budaya, Ekonomi, Makro, Mikro, Nasional, Ragam
0 0
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Makronesia.id – Laporan terkini dari CDP, organisasi nirlaba yang menjalankan sistem pelaporan lingkungan global, menunjukan bahwa sebanyak 1.043 perusahaan telah melakukan pengungkapan melalui kuesioner hutan CDP di tahun 2022. Hasil ini memperlihatkan peningkatan sebesar 300% untuk jumlah partisipasi perusahaan dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi pertanda positif bahwa banyak perusahaan yang mulai menyadari pentingnya hutan dan mulai terbuka untuk mengungkapkan dampak operasional bisnisnya terhadap hutan.

Sayangnya, perusahaan yang melakukan pengungkapan di Asia Tenggara hanya berjumlah 35 perusahaan. Meskipun ada peningkatan perusahaan yang menyadari adanya risiko bisnis dari deforestasi, namun tindakan untuk memenuhi komitmen mengurangi deforestasi masih dianggap kurang sehingga mendorong peningkatan risiko tersebut. Bahkan, hanya 1 dari 10 perusahaan yang melaporkan telah mengambil langkah-langkah cukup dalam menghentikan deforestasi.

RelatedPosts

“Bangunlah Jiwanya: Kebangkitan yang Kita Nyanyikan tapi Lupa Menjalani”

“Garuda di Dadaku” Balik Lagi, Tapi Kini Rasanya Lebih Ngena ke Anak Muda yang Lagi Cari Mimpi

Kalau Nggak Merasa Aman, Bagaimana Mau Maksimal? Ini yang Dibutuhkan Perempuan di Tempat Kerja

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa secara global, perusahaan-perusahaan masih belum secara efektif melakukan mitigasi risiko sehingga berpotensi mengalami kerugian hampir $80 miliar secara keseluruhan. Dari 10 perusahaan di Asia Tenggara saja, total risiko yang dilaporkan mencapai $2,3 miliar, sedangkan biaya penuh untuk menangani semua risiko yang diidentifikasi dan dilaporkan oleh 16 perusahaan hanya sebesar US$223 juta. CDP berpendapat bahwa dampak finansial yang dilaporkan perusahaan terkait risiko ini jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

Kawasan Asia Tenggara memiliki sekitar 30% dari keseluruhan terumbu karang dunia, sepertiga dari total hutan bakau dunia2, dan hampir 15% hutan tropis dunia. Hal ini membuat implikasi dari ketidakpedulian terhadap dampak deforestasi menjadi sangat besar dan dampaknya akan luar biasa dirasakan di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah dan para pemangku kebijakan di Asia Tenggara telah mengambil langkah-langkah penting dalam menunjukkan komitmennya terhadap netralitas karbon atau net zero. Sejumlah langkah yang telah dilakukan antara lain adalah menetapkan target untuk mengurangi emisi dari sektor hutan dan penggunaan lahan, pengelolaan deforestasi, dan melakukan kolaborasi dengan pihak non-pemerintah, termasuk sektor swasta. Beberapa inisiatif yang telah diimplementasikan meliputi peningkatan Nationally Determined Contribution (NDC), pengembangan taksonomi hijau, dan persyaratan pengungkapan mengenai Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) atau ESG.

Meskipun terdapat kemajuan yang telah dicapai, banyak tantangan yang perlu mendapatkan perhatian lebih, khususnya bagi perusahaan yang membeli komoditas dari Indonesia. Salah satunya adalah dampak dari produksi komoditas terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia. Pada tahun 2022, terdapat 28 perusahaan (meningkat dari 21 perusahaan pada tahun 2021) di Asia Tenggara yang melakukan pengungkapan melalui kuesioner hutan dan menjadi yang terdepan di kawasan ini.  Di antaranya, 10 perusahaan berasal dari Indonesia, 7 perusahaan dari Malaysia, 6 dari Singapura, 4 dari Thailand, 1 dari Filipina, dan tidak ada dari Vietnam.

Tindakan mendesak diperlukan untuk mengakhiri deforestasi. Oleh karena itu, laporan ini menjabarkan langkah-langkah utama yang harus diambil oleh perusahaan. Langkah-langkah ini termasuk melakukan evaluasi risiko secara komprehensif, meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan bebas-deforestasi dan-konversi, dan mengungkapkan kemajuan mereka dalam mencapai rantai pasok yang bebas deforestasi serta bebas konversi. Pengungkapan yang difasilitasi CDP atas perusahaan dan sektor jasa keuangan memungkinkan adanya pelaporan yang transparan terkait kemajuan dalam mencapai kerangka dan standar praktik terbaik.

John Leung, Direktur Asia Tenggara dan Oseania dari CDP mengatakan:

“Kawasan Asia Tenggara memiliki alam dan iklim yang penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Karena itu, negara di kawasan ini perlu segara mengambil langkah pencegahan perubahan iklim secara bersama-sama. PIlihan yang diambil oleh pemerintah dan perusahaan di Indonesia serta negara lainnya di kawasan Asia Tenggara dapat membantu mencegah bencana perubahan iklim global dan kehilangan hutan serta habitatnya.” 

Perkembangan terbaru ini tentu sangat menjanjikan, dan wilayah ini sedang menuju arah yang tepat dalam upaya keberlanjutan. Namun, untuk mencapai komitmen global penghentian laju deforestasi pada tahun 2030, tindakan yang tegas harus dipercepat. Komitmen netral karbon atau net zero tidak akan tercapai tanpa menghentikan deforestasi dan konversi lahan. Laporan ini telah menunjukkan bahwa di Asia Tenggara saja, total risiko yang dilaporkan, yakni US $2,3 miliar, merupakan 10 kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan biaya untuk menangani semua risiko yang teridentifikasi yang hanya sebesar US $223 juta.

 

Tindakan dan pengungkapan lingkungan yang lebih serius diperlukan agar kita dapat memperoleh gambaran lebih jelas tentang bagaimana bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan, dimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan. Kami berharap lebih banyak perusahaan di kawasan ini menyadari bahwa upaya melindungi lingkungan dan memperkuat komitmen mereka terhadap konservasi alam bisa menjadi keunggulan kompetitif bagi mereka.”

 

Thomas Maddox, Global Director, Forests, CDP mengatakan:

“Tahun ini adalah tahun luar biasa bagi perusahaan yang mengungkapkan dampaknya terhadap hutan, sekaligus menunjukkan sinyal positif untuk transparansi. Laporan ini menunjukkan, bahwa perusahaan-perusahaan semakin menyadari risiko dan peluang terkait dengan penanggulangan deforestasi. Tetapi, kami masih melihat kesenjangan antara komitmen dan tindakan nyata dari mereka. Deforestasi bukanlah keharusan dalam produksi komoditas. Pemberantasan deforestasi dari rantai pasok komoditas adalah langkah yang masuk akal secara ekonomi dan lingkungan, tetapi membutuhkan insentif keuangan dan kebijakan yang tepat untuk memprioritaskan tindakan tersebut. Tidak ada ruang bagi deforestasi dalam pencapaian emisi nol bersih dan masyarakat pun menuntut hal yang sama. Hal yang paling penting dalam mencapai tujuan ini adalah ‘kapan’, bukan ‘jika. Perusahaan yang bertindak terlambat akan menghadapi risiko biaya yang paling tinggi.”

Laporan Hutan Global 2023 yang berjudul “Transisi Hutan: Dari Risiko Menuju Ketahanan” dirilis berdasarkan data dari 1.000 lebih perusahaan. Dengan demikian, laporan ini menjadi kumpulan data yang paling komprehensif dan terstandarisasi mengenai paparan risiko deforestasi terhadap perusahaan. Untuk baca laporan selengkapnya: CDP_Global_Forest_Report_2023_Bahasa.pdf

Tags: Asia TenggaraCDPDeforestasiPerusahaan
ShareTweetPin

Related Posts

“Bangunlah Jiwanya: Kebangkitan yang Kita Nyanyikan tapi Lupa Menjalani”

May 20, 2026
“Garuda di Dadaku” Balik Lagi, Tapi Kini Rasanya Lebih Ngena ke Anak Muda yang Lagi Cari Mimpi

“Garuda di Dadaku” Balik Lagi, Tapi Kini Rasanya Lebih Ngena ke Anak Muda yang Lagi Cari Mimpi

May 18, 2026
Kalau Nggak Merasa Aman, Bagaimana Mau Maksimal? Ini yang Dibutuhkan Perempuan di Tempat Kerja

Kalau Nggak Merasa Aman, Bagaimana Mau Maksimal? Ini yang Dibutuhkan Perempuan di Tempat Kerja

May 14, 2026
TRILIUNAN DANA NASABAH RAIB, HANYA 20–30% BISA KEMBALI

TRILIUNAN DANA NASABAH RAIB, HANYA 20–30% BISA KEMBALI

May 14, 2026
Salah Rute Jadi Biaya Tersembunyi Ekonomi Jalanan

Salah Rute Jadi Biaya Tersembunyi Ekonomi Jalanan

May 13, 2026
Wajah Tanpa Nama di Ruang Sidang

Wajah Tanpa Nama di Ruang Sidang

May 12, 2026

POPULAR

  • Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    Sepak Terjang dan Profil Dirut PLN Darmawan Prasodjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Balaraja City Square Bangkit Kembali Bangun Pasar Laris SAIMAN Untuk Pedagang Dan Pengusaha Lokal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profesor dan Doktor Politeknik Negeri Padang Bacakan Puisi “Kampus Limau Manis”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Sukses Grounds Studio Brand Fashion Asal Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LindungiHutan Dorong Aksi Nyata untuk Lingkungan di Hari Bumi 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Digital Life
  • Ragam
  • Pendidikan

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

No Result
View All Result
  • Home
  • Indeks Berita
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
  • Login

© 2025 Makronesia.id - Support By eyepeMedia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In