Makronesia.id, Jawa Barat, (16/10) — Bagi Imas Komala, pemilik toko kelontong di Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, lokasi usahanya yang jauh dari pusat kota bukan lagi alasan untuk tertinggal dalam urusan pembayaran.
“Walaupun lokasinya di kampung, toko kita enggak kalah sama Indomaret atau Alfamart,” kata Imas ketika menceritakan penggunaan pembayaran digital di tokonya. Ia kini menerima berbagai pembayaran melalui dompet digital dan QRIS. detikcom
Perubahan kecil di sebuah toko kelontong itu menggambarkan transformasi yang jauh lebih besar.
Di kota-kota besar, telepon genggam telah lama berfungsi sebagai alat pembayaran, mobile banking, hingga pintu masuk ke pasar modal. Di daerah, fungsi yang sama semakin terlihat pada warung, pasar tradisional, agen layanan keuangan dan usaha mikro.
Batas antara kehidupan “online” dan “offline” masyarakat Indonesia perlahan menipis. Ponsel bukan lagi sekadar perangkat komunikasi. Ia mulai menjadi dompet, mesin kasir, kantor bank, sekaligus terminal investasi.
Data Bank Indonesia memperlihatkan skala perubahan tersebut. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 65,77 juta, sementara jumlah merchant mencapai 44,86 juta. Sebanyak 96,68% merchant QRIS merupakan UMKM. Hanya dalam enam bulan pertama 2026, QRIS mencatat sekitar 12,55 miliar transaksi dengan nilai Rp1,12 kuadriliun. Bank Indonesia
Desa mulai terkoneksi, tetapi kesenjangan belum hilang
Digitalisasi keuangan memang semakin luas, tetapi tingkat kesiapan masyarakat belum sepenuhnya merata.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2026 yang dirilis OJK, LPS dan BPS menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61%, sementara indeks literasi keuangan berada pada 69,57%. OJK
Perbedaan desa dan kota masih terlihat jelas.
Di wilayah perkotaan, indeks literasi keuangan mencapai 72,54% dan inklusi keuangan 95,47%. Di perdesaan, literasi tercatat lebih rendah pada 64,42%, dengan inklusi keuangan sebesar 90,39%. OJK
Angka tersebut memberikan gambaran penting: akses terhadap layanan keuangan berkembang lebih cepat daripada kemampuan sebagian masyarakat memahami produk yang mereka gunakan.
Artinya, seseorang dapat memiliki rekening, dompet digital atau aplikasi investasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup mengenai biaya, risiko, keamanan data, bunga, imbal hasil ataupun potensi kerugian.
Studi INDEF mengenai kesenjangan digital di wilayah perdesaan juga menunjukkan biaya internet masih memengaruhi partisipasi usaha mikro dalam transaksi daring. Selain konektivitas, literasi digital, kemampuan praktis menggunakan teknologi dan akses terhadap lembaga keuangan formal dinilai menjadi faktor penting agar digitalisasi benar-benar meningkatkan produktivitas usaha. Indef
Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda melihat perkembangan teknologi finansial dapat membantu memperluas akses tersebut.
“Kehadiran pinjaman daring juga mendorong adanya inklusi keuangan dari penduduk di desa,” kata Nailul. Menurut dia, keberadaan agen-agen layanan keuangan di tingkat desa turut membuat layanan digital semakin dekat dengan masyarakat. cms-web-stg.amartha.com
Dari menerima pembayaran hingga mencari modal
Perubahan yang terjadi di daerah juga tidak berhenti pada QRIS.
Model layanan digital mulai berkembang dari pembayaran menuju pembiayaan, pengiriman uang, pembayaran tagihan bahkan investasi mikro.
Amartha, misalnya, mencatat sekitar 60% dari 3,7 juta mitra UMKM yang memperoleh penyaluran modal melalui platformnya berasal dari luar Jawa. Hingga akhir 2025, perusahaan tersebut menyebut telah menjangkau pelaku UMKM di sekitar 50.000 desa. Antara News
Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan pengembangan layanan bagi masyarakat akar rumput tidak cukup hanya dengan membawa teknologi ke desa. Produk harus mengikuti kebutuhan masyarakatnya.
Menurut dia, “kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership” menjadi fondasi untuk membangun layanan keuangan yang dapat berkembang berkelanjutan. Antara News
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi desa memasuki fase baru. Teknologi bukan semata-mata alat untuk berbelanja secara daring, tetapi mulai masuk ke arus kas usaha dan kehidupan finansial rumah tangga.
Bagi Imas di Sumedang, manfaatnya bahkan sangat sederhana: pencatatan transaksi menjadi lebih mudah karena ia tidak perlu lagi sepenuhnya mengandalkan buku catatan. Menurutnya, keberadaan QRIS menjadi salah satu faktor yang membantu tokonya bertahan menghadapi perubahan perilaku konsumen. detikcom
Di kota, ponsel menjadi pintu masuk ke pasar modal
Jika digitalisasi di tingkat akar rumput banyak terlihat melalui pembayaran dan pembiayaan, perubahan lain terjadi pada cara masyarakat membangun aset.
Investasi yang dahulu identik dengan kantor bank, perusahaan sekuritas atau investor berpengalaman kini tersedia melalui aplikasi di telepon genggam.
OJK mencatat jumlah investor pasar modal domestik mencapai 32,17 juta investor pada akhir September 2026, naik 57,96% secara year-to-date. OJK secara eksplisit mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan penguatan ekosistem digital di industri pasar modal. OJK
Rian Pratama, seorang investor ritel berusia 29 tahun, merupakan salah satu gambaran generasi investor tersebut. Ia mengaku mulai serius mengenal saham melalui kombinasi YouTube, media sosial dan pemberitaan ekonomi.
“Aku baru benar-benar mau investasi ketika mengenal cara kerja saham,” katanya. Dari layar ponsel pula ia membaca informasi dan memantau pergerakan pasar sebelum mengambil keputusan investasi. tirto.id
Pertumbuhan investor digital juga terlihat pada perusahaan teknologi investasi. Ajaib, misalnya, mencatat lebih dari 7 juta investor pada awal 2026, dengan mayoritas pengguna berada pada kelompok usia produktif 25–40 tahun. kontan.co.id
Vice President of Product Design and Brand Experience Ajaib Michael Lim mengatakan tantangan berikutnya bukan semata-mata mengejar pertumbuhan pengguna.
“Prioritas kami adalah keamanan, transparansi, dan perlindungan investasi,” ujarnya. Menurut perusahaan, banyak penggunanya merupakan orang yang untuk pertama kalinya memiliki akun investasi. kontan.co.id
Ketika akses tumbuh lebih cepat dari pemahaman
Di sinilah paradoks ekonomi digital Indonesia mulai terlihat.
Teknologi berhasil menurunkan berbagai hambatan masuk. Pedagang kecil dapat menerima pembayaran elektronik tanpa memiliki mesin EDC. Masyarakat dapat membuka rekening melalui telepon genggam. Investor baru dapat membeli reksa dana, obligasi atau saham tanpa datang ke kantor perusahaan sekuritas.
Namun, semakin rendah hambatan untuk masuk, semakin penting pula memastikan masyarakat memahami apa yang mereka lakukan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan ukuran keberhasilan inovasi keuangan seharusnya bukan sekadar kecanggihan teknologinya.
“Inovasi keuangan adalah mesin yang seharusnya menjadi penggerak sistem keuangan untuk memperbaiki ekonomi riil,” kata Friderica dalam FEKDI dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026. OJK
Ia sekaligus mengingatkan bahwa keamanan harus menjadi bagian dari ekspansi tersebut. “Keamanan siber dan pelindungan konsumen itu tidak bisa ditawar,” tegasnya. OJK
Pesan itu menjadi semakin relevan karena digitalisasi tidak hanya memperluas kesempatan, tetapi juga memperluas risiko.
Masyarakat yang sebelumnya tidak tersentuh investasi kini dapat mengakses pasar modal dalam hitungan menit. Pelaku usaha yang kesulitan memperoleh kredit bank dapat mencari pembiayaan secara daring. Tetapi pada layar yang sama terdapat pula tawaran investasi ilegal, pinjaman bermasalah, pencurian data hingga manipulasi informasi finansial.
Karena itu, babak selanjutnya dari digitalisasi Indonesia kemungkinan tidak lagi sekadar ditentukan oleh berapa banyak orang yang terkoneksi, melainkan oleh seberapa produktif dan aman konektivitas itu digunakan.
Dari Tanjungkerta hingga Jakarta, perubahan itu sebenarnya telah terlihat.
Di satu tempat, ponsel berbunyi ketika pembayaran sebuah warung berhasil masuk. Di tempat lain, layar yang sama menampilkan grafik harga saham dan nilai portofolio.
Teknologinya mungkin sama. Yang berubah adalah fungsi ekonominya.
Dan ketika ponsel telah menjadi kasir, bank sekaligus pintu menuju pasar modal, digitalisasi Indonesia tak lagi sekadar cerita tentang internet—melainkan tentang bagaimana masyarakat menghasilkan, mengelola, dan menumbuhkan uang. (Alia-Mudira)







