Jakarta, (18/5) Makronesia.id — Ledakan kebutuhan komputasi berbasis AI mulai mengubah arah industri perangkat keras global. Kingston Technology menangkap momentum itu dengan meluncurkan tiga produk baru sekaligus di Jakarta, Senin (18/5): Kingston FURY Renegade Pro DDR5 RDIMM, SSD enterprise DC3000ME Gen5 U.2 NVMe, dan USB terenkripsi IronKey Locker+ 50 G2.
Produk paling agresif datang dari lini memorinya. Kingston FURY Renegade Pro DDR5 RDIMM hadir dengan kecepatan hingga 7600MT/s untuk workstation AI, simulasi engineering, hingga data science. “Pengguna saat ini memerlukan solusi yang tidak hanya cepat, tetapi juga andal, aman, dan konsisten,” ujar Kevin Wu, Vice President Sales, Marketing and Business Development APAC Kingston Technology.
Di sektor data center, Kingston menghadirkan SSD DC3000ME Gen5 dengan kapasitas hingga 30,72TB dan kecepatan baca mencapai 14GB per detik. SSD ini menggunakan PCIe 5.0 NVMe dan ditujukan untuk beban kerja enterprise yang membutuhkan latensi rendah serta throughput tinggi. Kingston juga menyematkan fitur power loss protection dan enkripsi AES 256-bit untuk kebutuhan keamanan dan compliance perusahaan.
Namun, di balik performa ekstrem itu, teknologi PCIe 5.0 juga menuai kritik dari berbagai pengamat hardware global. Sejumlah pengujian dari media teknologi seperti Tom’s Hardware dan PCWorld menunjukkan SSD PCIe Gen5 memiliki persoalan panas berlebih dan konsumsi daya tinggi. Beberapa pengujian bahkan menemukan drive dapat mengalami thermal shutdown jika pendinginan tidak memadai.
Kritik lain datang dari kalangan komunitas hardware dan peneliti penyimpanan enterprise. Banyak analis menilai performa PCIe 5.0 memang sangat tinggi untuk AI dan server modern, tetapi belum sepenuhnya efisien bagi pengguna umum karena suhu, harga, dan kebutuhan pendinginan tambahan. Sementara studi akademik tentang SSD enterprise juga menunjukkan perangkat storage tetap menjadi salah satu sumber kegagalan terbesar di lingkungan hyperscale data center.
Meski demikian, langkah Kingston memperlihatkan satu hal penting: perang AI kini tidak lagi hanya terjadi di level software dan chatbot. Pertarungan besar berikutnya sedang berlangsung di balik layar, tepatnya di RAM, SSD, dan infrastruktur data center yang menopang ledakan komputasi modern.







