JAKARTA, (13/5) 2026, Makronesia.id — Bayangkan uang tabungan Anda di bank raib dibobol hacker, lalu pihak bank bilang: sebagian besar tidak bisa kembali. Skenario itu bukan fiksi ilmiah. Wakil Ketua Umum PERBANAS, Hendra Lembong, mengungkap fakta pahit itu secara blak-blakan dalam CxO Forum Banking Update 2026 hari ini di Jakarta: data OJK mencatat triliunan rupiah dana nasabah sudah menjadi korban serangan siber, dan hanya sekitar 20–30% yang berhasil dipulihkan — kebanyakan tidak bisa direcover. Kontan
Angka itu bukan anomali. OJK dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat sekitar 274.000 kasus penipuan dengan total kerugian publik melampaui Rp 6 triliun dalam periode akhir 2024 hingga 2025. Di level global, IBM Cost of a Data Breach Report 2025 menegaskan bahwa sektor keuangan mencatat rata-rata kerugian USD 5,56 juta per insiden peretasan — tertinggi kedua di dunia setelah sektor kesehatan. IT BEATDataFence
Yang membuat situasi 2026 jauh lebih berbahaya adalah satu kata: AI. Para pelaku kejahatan siber kini menggunakan AI untuk membuat email, pesan, bahkan panggilan suara yang sangat meyakinkan — mampu mengelabui nasabah maupun karyawan bank, bahkan melewati pelatihan keamanan standar sekalipun. IBM mencatat bahwa 97% organisasi yang mengalami insiden keamanan berbasis AI ternyata tidak memiliki kontrol akses yang memadai, dan penggunaan shadow AI oleh karyawan menambah rata-rata USD 670.000 pada biaya kebocoran data per insiden. C9LabIBM
Indonesia sendiri adalah ekonomi digital yang paling sering diserang di Asia Tenggara, dengan 3.300 percobaan peretasan setiap minggu, sementara alokasi anggaran keamanan siber nasional baru menyentuh 0,02% dari PDB. Kesenjangan antara besarnya target dan tipisnya pertahanan inilah yang membuat sektor perbankan nasional berada di posisi rawan. Mordor Intelligence
Regulator bergerak. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Adi Budiarso, menyebut ini persoalan eksistensial: “Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan prasyarat utama bagi keberlanjutan industri keuangan digital. Dalam ekosistem yang semakin terhubung, satu insiden siber tidak hanya berdampak pada satu institusi, tetapi dapat memengaruhi reputasi, kepercayaan, dan stabilitas ekosistem secara keseluruhan.” Suara Pemerintah
Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam Global Cybersecurity Outlook 2026 mempertegas dari perspektif global: penipuan berbasis siber kini telah menggeser ransomware sebagai ancaman nomor satu yang paling mengkhawatirkan para CEO, dengan 73% responden dari 92 negara mengaku mereka atau seseorang dalam jaringan mereka telah menjadi korban penipuan siber sepanjang 2025. Yang lebih ironis, WEF menemukan sektor keuangan justru tertinggal dalam adopsi AI untuk pertahanan siber dibandingkan sektor manufaktur dan energi — padahal sektor ini paling sering menjadi sasaran. BankInfoSecurityCybermagazine
Pesan sentral forum hari ini adalah pergeseran paradigma yang tidak bisa ditunda. President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menyebutnya keharusan struktural: “Keamanan siber tidak lagi cukup menjadi lapisan pertahanan, tetapi harus menjadi fondasi strategis yang menyatu dengan konektivitas, cloud, dan kapabilitas AI dalam satu ekosistem yang bekerja secara real-time dan berkelanjutan.”
Pandangan itu dikuatkan data: 57% pemimpin lembaga keuangan global kini menjadikan penguatan tata kelola siber di tingkat dewan direksi sebagai prioritas utama nomor satu mereka. Era di mana isu siber didelegasikan ke divisi IT sudah berakhir — ini kini urusan ruang rapat direksi. Jack Henry
Di balik semua angka itu, ada satu taruhan yang paling vital: kepercayaan publik. Survei Experian 2026 menemukan 69% konsumen tidak yakin bank mereka cukup siap menghadapi serangan siber berbasis AI, dan 76% percaya kejahatan siber akan terus meningkat dan kian sulit dibendung karena AI. Ketika mayoritas nasabah sudah pesimis soal keamanan uang mereka, alarm itu seharusnya berbunyi keras di setiap kantor pusat perbankan Indonesia. Experian
Armand menutup dengan framing yang lebih besar dari sekadar forum bisnis: “Kemampuan menjaga data, sistem, dan kepercayaan publik adalah prasyarat utama bagi Indonesia untuk bertransformasi dari konsumen teknologi menjadi produsen dan inovator digital.” Pertanyaannya kini bukan lagi apakah bank Anda akan diserang — tapi saat serangan itu datang, apakah uang Anda termasuk yang 20–30% yang selamat?. [Alia-Mudira]







