Makronesia.id, Jakarta, (16/10) – Pergantian pucuk pimpinan PT PLN (Persero) pada Rabu, 14 Oktober 2026, menandai berakhirnya hampir lima tahun kepemimpinan Darmawan Prasodjo. Sosok ekonom dan teknokrat yang sebelumnya dikenal dekat dengan perumusan kebijakan energi nasional itu kini meninggalkan kursi Direktur Utama PLN kepada Suroso Isnandar.
Namun, di balik pergantian tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih penting bagi publik: seberapa jauh PLN berubah selama dipimpin Darmawan, dan apa manfaat perubahan itu bagi masyarakat Indonesia?
Darmawan bukan sekadar memimpin perusahaan penyedia listrik. Ia mengelola salah satu BUMN paling strategis, dengan jutaan pelanggan, infrastruktur yang tersebar di seluruh Indonesia, serta tanggung jawab menjaga keseimbangan antara pelayanan publik, kesehatan keuangan, dan transisi energi.
Rekam jejaknya memperlihatkan sejumlah capaian penting, terutama dalam digitalisasi pelayanan, pertumbuhan pendapatan, dan perluasan akses listrik. Meski demikian, sejumlah tantangan struktural masih menjadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan berikutnya.
Kinerja Keuangan: Pendapatan PLN Tembus Rp582 Triliun
Salah satu ukuran keberhasilan manajerial Darmawan dapat dilihat dari kemampuan PLN mempertahankan pertumbuhan usaha di tengah tekanan biaya energi, nilai tukar, dan kebutuhan investasi infrastruktur.
Pada 2025, PLN membukukan pendapatan Rp582,68 triliun, meningkat 6,84 persen dibandingkan Rp545,38 triliun pada 2024.
Bagi Darmawan, tantangan manajerial PLN tidak berhenti pada peningkatan penjualan listrik. Perusahaan juga harus mengendalikan biaya, menjaga investasi, dan memastikan listrik tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.
Karena itu, pencapaian keuangan selama kepemimpinannya perlu dilihat sebagai hasil kombinasi pembenahan internal, pertumbuhan permintaan, dan dukungan kebijakan pemerintah, bukan semata-mata keberhasilan seorang direktur utama.
Transformasi Digital: Mengubah Cara PLN Melayani Masyarakat
Salah satu perubahan paling mudah dirasakan pelanggan adalah pengembangan PLN Mobile.
Aplikasi yang sebelumnya memiliki sekitar 500 ribu unduhan dan rating 2,5 dari 5 tersebut berkembang menjadi platform layanan digital dengan puluhan juta pengguna. Pada Desember 2024, Darmawan melaporkan sekitar 55 juta unduhan dalam rapat dengan DPR.
Transformasi itu mengubah cara masyarakat berhubungan dengan PLN.
Pelanggan tidak lagi harus selalu mendatangi kantor pelayanan untuk membeli token, mengajukan penyambungan listrik, melaporkan gangguan, atau memantau layanan. Berbagai kebutuhan tersebut kini dapat diakses melalui telepon genggam.
Di sisi internal, digitalisasi juga diarahkan untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pengadaan, pembangkitan, distribusi, hingga pelayanan pelanggan.
Darmawan pernah menjelaskan bahwa proses bisnis PLN sebelumnya berjalan secara terfragmentasi dan banyak bergantung pada pekerjaan manual. Pembenahan dilakukan agar aktivitas perusahaan lebih mudah dipantau dan diukur.
Dari sudut pandang manajemen, perubahan ini penting. Digitalisasi bukan hanya menghadirkan aplikasi baru, tetapi juga memperbaiki mekanisme pengawasan, koordinasi, dan respons perusahaan.
Meski demikian, besarnya jumlah unduhan aplikasi tidak otomatis membuktikan seluruh pelanggan telah memperoleh pelayanan yang lebih cepat. Ukuran yang lebih menentukan adalah waktu penyelesaian gangguan, tingkat kepuasan pelanggan, dan keandalan pasokan listrik di lapangan.
Memperluas Akses Listrik hingga Pelosok Indonesia
Keberhasilan perusahaan listrik negara tidak dapat dinilai hanya dari neraca keuangan. Dampak yang lebih mendasar adalah seberapa banyak masyarakat memperoleh akses listrik.
Hingga akhir 2024, rasio desa berlistrik di Indonesia mencapai 99,92 persen, atau sebanyak 83.693 desa dan kelurahan. Sementara itu, rasio elektrifikasi nasional tercatat 99,83 persen.
Sepanjang 2024, program kelistrikan menjangkau 951 desa dan menyambungkan listrik kepada 103.249 rumah tangga.
Bagi masyarakat, listrik bukan sekadar penerangan. Ketersediaannya membuka peluang kegiatan ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan usaha produktif.
Warung dapat mengoperasikan lemari pendingin, pelaku UMKM menggunakan peralatan produksi, sementara anak-anak memiliki kesempatan belajar dengan penerangan yang lebih memadai.
Dampak tersebut merupakan manfaat potensial dari perluasan akses listrik. Besarnya peningkatan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat tetap memerlukan penelitian tersendiri.
Perlu pula dicatat bahwa elektrifikasi merupakan program jangka panjang yang melibatkan pemerintah, PLN, dan berbagai pemangku kepentingan. Capaian tersebut tidak seluruhnya dapat diatribusikan kepada kepemimpinan Darmawan.
Dari Penjual Listrik Menjadi Penyedia Solusi Energi
Perubahan lain yang didorong selama kepemimpinan Darmawan adalah pengembangan bisnis di luar penjualan listrik konvensional atau Beyond kWh.
PLN memperluas layanan ke internet melalui ICONNET, ekosistem pengisian kendaraan listrik, layanan kelistrikan tambahan, serta berbagai produk berbasis digital.
Strategi ini mencerminkan upaya mengubah model bisnis PLN dari perusahaan yang terutama menjual energi listrik menjadi penyedia berbagai solusi energi dan layanan terkait.
Dari sisi manajemen, diversifikasi dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan pemanfaatan aset yang sudah dimiliki perusahaan.
PLN melaporkan total aset mencapai Rp1.691 triliun pada semester pertama 2024, dibandingkan Rp1.588 triliun pada 2020. Jumlah pelanggan pada periode yang sama juga meningkat dari sekitar 79 juta menjadi 91,1 juta.
Namun, keberhasilan diversifikasi pada akhirnya harus diukur melalui kontribusi laba, tingkat pengembalian investasi, dan kemampuan bisnis baru untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Transisi Energi: Agenda Besar yang Belum Selesai
Selain pembenahan bisnis, Darmawan juga membawa PLN semakin aktif dalam agenda transisi energi nasional.
Di bawah kepemimpinannya, PLN melanjutkan pengembangan energi terbarukan, infrastruktur pendukung kendaraan listrik, serta transformasi perusahaan menuju sistem energi yang lebih rendah emisi.
Langkah tersebut menjadi penting karena PLN berada di pusat persoalan transisi energi Indonesia. Perusahaan harus menjaga ketersediaan listrik dengan biaya terjangkau, sementara pada saat yang sama mengurangi ketergantungan jangka panjang pada pembangkit berbasis energi fosil.
Tantangannya tidak sederhana. Pengembangan pembangkit energi terbarukan membutuhkan jaringan transmisi, investasi besar, kepastian regulasi, serta kemampuan menjaga stabilitas sistem kelistrikan.
Karena itu, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari banyaknya program atau komitmen yang diumumkan. Realisasi kapasitas pembangkit bersih, penurunan intensitas emisi, dan kesiapan jaringan listrik menjadi ukuran yang lebih penting.
Dalam konteks ini, Darmawan meninggalkan fondasi kebijakan dan transformasi, tetapi belum menyelesaikan seluruh tantangan transisi energi PLN.
Kemampuan Manajerial: Menghubungkan Kebijakan dan Operasional
Latar belakang Darmawan sebagai lulusan ilmu komputer dan doktor ekonomi terapan memberikan warna tersendiri pada pendekatan kepemimpinannya.
Sebelum menjadi Direktur Utama PLN pada Desember 2021, ia pernah menjabat Deputi di Kantor Staf Presiden, Komisaris PLN, serta Wakil Direktur Utama PLN sejak Desember 2019.
Kombinasi pengalaman tersebut mempertemukannya dengan tiga dimensi yang menentukan keberhasilan BUMN energi: kebijakan pemerintah, pengelolaan korporasi, dan pelaksanaan operasional.
Dari rekam jejak transformasi PLN, terdapat tiga karakter pendekatan manajerial yang dapat diidentifikasi: konsolidasi proses bisnis, penggunaan teknologi untuk pengendalian operasional, serta diversifikasi untuk membuka sumber pertumbuhan.
Akan tetapi, efektivitas manajerial secara menyeluruh masih perlu diuji melalui indikator efisiensi biaya, produktivitas, kualitas layanan, dan tingkat keberhasilan investasi, bukan hanya pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Warisan Darmawan dan Pekerjaan Rumah PLN
Pergantian kepemimpinan PLN tidak serta-merta menghapus capaian perusahaan selama hampir lima tahun terakhir.
Komisaris PLN Andi Arief, ketika mengonfirmasi pergantian direktur utama, menyampaikan apresiasi terhadap pengabdian Darmawan.
“Saya mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang sangat berarti dari Darmawan Prasodjo, banyak melakukan transformasi,” ujar Andi, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 14 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pergantian pucuk pimpinan juga dapat menjadi momentum melanjutkan agenda transformasi yang telah berjalan.
Bagi Suroso Isnandar, tantangannya adalah mempertahankan kesehatan keuangan PLN, meningkatkan keandalan pelayanan, mempercepat transisi energi, dan memastikan masyarakat di wilayah terpencil tidak tertinggal.
Sementara bagi Darmawan, warisan kepemimpinannya tidak hanya tercermin pada pertumbuhan pendapatan atau jumlah pengguna aplikasi digital, tetapi pada perubahan cara PLN mengelola bisnis dan melayani masyarakat.
Hampir lima tahun setelah menerima mandat memimpin PLN, Darmawan meninggalkan perusahaan dengan skala bisnis yang lebih besar, pelayanan yang semakin terdigitalisasi, dan agenda transformasi yang masih terus berjalan.
Pada akhirnya, ukuran paling penting dari warisan seorang pemimpin perusahaan listrik negara bukan sekadar besarnya keuntungan yang dibukukan, melainkan seberapa jauh listrik yang dikelolanya mampu memperbaiki kehidupan masyarakat Indonesia.
Grafik perjalanan karier Darmawan Prasodjo
Dari Akademisi hingga Pucuk Pimpinan PLN
Linimasa karier dan jabatan utama, 1994–2026
-
1994–2011 | Pendidikan dan riset di Amerika Serikat
Sarjana dan magister ilmu komputer, kemudian doktor ekonomi terapan. Mengembangkan keahlian dalam pemodelan ekonomi dan kebijakan energi.
-
2012–2014 | Akademisi dan ekonom energi
Berkiprah di Indonesia Center for Green Economy dan Surya University setelah kembali ke Indonesia.
-
2015–2019 | Deputi Kantor Staf Presiden
Mengawal pengendalian dan pemantauan program prioritas nasional, termasuk sektor energi dan infrastruktur.
-
2018–2019 | Komisaris PLN
Memasuki pengawasan korporasi kelistrikan nasional.
-
2019–2021 | Wakil Direktur Utama PLN
Terlibat dalam pembenahan proses bisnis dan transformasi perusahaan.
-
Desember 2021–Oktober 2026 | Direktur Utama PLN
Memimpin agenda digitalisasi, pertumbuhan usaha, pelayanan pelanggan, dan transisi energi.
-
14 Oktober 2026 | Pergantian kepemimpinan
Suroso Isnandar ditunjuk sebagai Direktur Utama PLN.
Sumber: Laporan Tahunan PLN 2019 dan 2023, profil resmi PLN, serta ANTARA.







