JAKARTA – Gaji belum cair, saldo sudah menipis. Kondisi ini dikenal sebagai fenomena “mantab” alias makan tabungan, dan kini jadi bahan perdebatan di antara regulator, perbankan, dan ekonom.
Rata-rata saldo per rekening untuk simpanan di bawah Rp100 juta turun dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Penurunan itu sekitar 45% dalam delapan tahun, menurut data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas).
Konsumsi naik, tabungan turun
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Agustus 2026 menunjukkan tekanan itu. Porsi pendapatan untuk konsumsi naik dari 72,7% menjadi 74,2%, sementara porsi yang ditabung turun dari 16,8% menjadi 15,8%. Porsi untuk cicilan sedikit turun dari 10,5% menjadi 10,0%. Artinya, dari setiap Rp1 juta pendapatan, sekitar Rp742 ribu dipakai untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk cicilan, dan Rp158 ribu sisanya untuk ditabung.
Tekanan paling terasa di kelompok berpengeluaran rendah. Pada kelompok pengeluaran Rp1–2 juta, rasio konsumsi terhadap pendapatan naik dari 76,3% menjadi 77,6%.
Hasil survei ini punya sisi yang bertolak belakang. Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2026 naik ke 118,5 dari 116,8 pada Juli. Konsumen makin optimistis, tetapi ruang menabung mereka justru menyempit.
Data berbeda, kesimpulan berbeda
Di sini pendapat para pihak berbeda.
Ekonom Perbanas Winang Budoyo menyebut penurunan saldo rata-rata itu sebagai tanda bahwa dana yang dipakai masyarakat dari tabungan lebih besar daripada kemampuan mereka menambah simpanan. Menurutnya, gejala ini terlihat sejak 2018 dan menguat hingga Mei 2026.
Perbanas juga mencatat kesenjangan antarkelompok. Rata-rata saldo rekening di atas Rp5 miliar naik dari Rp27,62 miliar pada 2018 menjadi Rp38,77 miliar per Mei 2026.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menolak kesimpulan itu. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyatakan seluruh kelompok simpanan, termasuk di bawah Rp100 juta, masih tumbuh secara tahunan hingga Juni 2026. LPS memantau data seluruh rekening yang dijamin bersama OJK, BI, dan Kementerian Keuangan. Anggito mengakui kondisi tiap individu berbeda: ada yang memakai tabungannya, ada yang menambah.
Data LPS memang menunjukkan pertumbuhan. Simpanan di bawah Rp100 juta mencapai Rp1.166,76 triliun per Juni 2026, naik 5,2% dalam setahun.
Namun ada catatan penting. Dalam periode yang sama jumlah rekening tumbuh 9,5% menjadi 689,48 juta, lebih cepat daripada nominal simpanannya. Dengan kata lain, pertumbuhan total simpanan lebih banyak datang dari bertambahnya rekening daripada naiknya isi tabungan. Jika total simpanan dibagi jumlah rekening, hasilnya sekitar Rp1,69 juta per rekening, sejalan dengan angka Perbanas (hitungan redaksi).
Ekonom Awalil menilai data agregat tidak cukup untuk menyimpulkan fenomena ini tidak terjadi. Menurutnya, data saldo per rekening justru mengindikasikan fenomena tersebut.
Suara dari industri perbankan
Tidak semua pelaku industri sepakat bahwa ini tanda tekanan struktural. Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan menilai penurunan saldo di segmen simpanan kecil lazim terjadi setelah libur panjang dan masuk tahun ajaran baru. Menurutnya, pola itu umumnya paling terasa di tabungan ritel di bawah Rp100 juta. kontan
BCA, lewat EVP Corporate Communication Hera F Haryn, menyatakan jumlah rekening bersaldo di bawah Rp100 juta masih tumbuh sehat.
Kebiasaan ikut menentukan
Head of Investment & Insurance DANA Group Ivan Kusuma menilai penyusutan saldo tidak selalu disebabkan gaya hidup boros. Masalahnya sering muncul karena uang untuk kebutuhan harian, dana darurat, dan tujuan jangka panjang bercampur di satu tempat. “Ketika semuanya terlihat bisa dibelanjakan, tabungan akan selalu menjadi pos pertama yang dikorbankan,” ujarnya.
Ivan mendorong pendekatan conscious spending, yaitu menentukan tujuan uang sebelum dibelanjakan. Ia menyarankan lima langkah:
- Melacak pengeluaran kecil seperti jajan, parkir, dan langganan aplikasi.
- Menyusun anggaran dan alokasi sesuai prioritas.
- Memberi jeda 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak.
- Memakai cicilan secara terukur.
- Tetap menyisihkan ruang untuk hiburan.
“Kemudahan bayar digital perlu diimbangi dengan kesadaran finansial supaya kita tidak jadi lebih impulsif,” kata Ivan. (Alia-mudira)







